“Komunikasi yang tepat waktu, akurat, lengkap, jelas, dan dipahami penerima pesan, akan mengurangi risiko kesalahan medis.
Baca Juga: PT MUM Kembali Buka Loker Account Officer, Syarat Pendidikan SMA Sederajat
"Standarisasi seperti SBAR-TBaK penting dalam pelaporan kondisi pasien, instruksi medis, hingga serah terima antar tenaga kesehatan,” tegas dr. Erwinsyah.
Metode ini tidak hanya memenuhi standar akreditasi rumah sakit, tetapi juga memastikan setiap informasi krusial, terutama hasil pemeriksaan kritis, dapat tersampaikan dengan benar dalam waktu kurang dari 30 menit.
“Kesalahan komunikasi, khususnya yang disampaikan secara lisan atau melalui telepon tanpa konfirmasi, berpotensi membahayakan nyawa pasien.
Baca Juga: 5 Kuliner Sumatra Barat yang Terbuat dari Beras Ketan, Hampir Semuanya Kudapan atau Camilan
"Dengan SBAR-TBaK, kita memiliki mekanisme baku untuk meminimalkan risiko tersebut,” tambahnya.
Sejalan dengan itu, Direktur Medis IHC dr. Lia G. Partakusuma menegaskan bahwa keselamatan pasien bergantung pada dua aspek utama.
“Patient safety bukan hanya soal teknologi medis, tapi juga soal komunikasi yang benar.
Baca Juga: Sebulan Beroperasi, Trayek Baru DAMRI Samarinda–Melak Layani Ribuan Penumpang
"Tanpa keduanya, risiko keselamatan pasien, terutama anak, akan lebih tinggi,” ujarnya.
Ia menambahkan, World Patient Safety Day menjadi momentum bagi seluruh jaringan rumah sakit BUMN di bawah IHC untuk memperkuat budaya keselamatan pasien yang berorientasi pada perlindungan.
“Melalui sistem deteksi dini dan komunikasi yang efektif, kami memastikan setiap pasien, khususnya anak-anak sebagai kelompok paling rentan, mendapatkan perlindungan maksimal,” lanjut dr. Lia.
Senada, VP Medical Service IHC, dr. Henny Veirawaty, menegaskan komitmen perusahaannya dalam memperkuat fondasi keselamatan pasien.