Tahun ini, berdasarkan data neraca komoditas Badan Pangan Nasional (Bapanas), konsumsi gula nasional diperkirakan mencapai 2.841.928 ton, sementara produksi gula kristal putih (GKP) dalam negeri baru sekitar 2.589.073 ton.
“Keterlibatan BUMN pangan melalui skema penyerapan dan distribusi diharapkan mampu menjaga stabilisasi stok dan harga, sehingga mempersempit kesenjangan antara produksi dan kebutuhan masyarakat,” ungkap Yosdian.
Lebih dari sekadar menjaga harga, ia menuturkan, upaya kolaboratif ini juga mendorong terciptanya rantai pasok gula yang lebih sehat dan berkelanjutan.
ID FOOD menegaskan akan terus memperkuat peranannya sebagai offtaker gula petani serta memperluas jaringan distribusi hingga ke ritel modern dan pasar tradisional.
Baca Juga: Kolaborasi PT Timah dan Masyarakat di World Clean Up Day: Bersihkan Taman Sari Sungailiat
“Dengan langkah ini, ID FOOD tidak hanya hadir sebagai penyerap hasil panen, tetapi juga sebagai motor penggerak industri gula nasional melalui dukungan hulu hingga hilir.
"Sinergi BUMN pangan bersama petani, SGN, pedagang, dan stakeholder lainnya diharapkan semakin memperkuat ketahanan pangan Indonesia,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (DPN APTRI) Soemitro Samadikoen, pada kesempatan terspisah turut merespon upaya penyerapan gula petani.
Baca Juga: PLN Perkuat Pasokan Listrik Andal untuk Dukung Produksi PHR di WK Rokan
Ia menilai pola pelelangan mandiri seperti yang dijalankan ID FOOD bisa menjadi solusi.
Dengan sistem tersebut, distribusi gula lebih cepat sekaligus menjaga harga di tingkat petani.
Ia juga menanggapi perihal masih maraknya peredaran gula rafinasi di pasar gula konsumsi, sehingga dapat menghambat penyerapan.
“Konsumsi gula kita masih tinggi, tapi pasar justru tercampur dengan gula rafinasi. Maka mekanisme pelelangan harus diperbaiki,” tegasnya.