rilis-bumn

Jejak Kepedulian PEP Rantau: Inklusi Difabel, Energi Hijau, dan Lingkungan Berkelanjutan

Kamis, 2 Oktober 2025 | 10:30 WIB
PEP Rantau wujudkan inklusi difabel, energi hijau, ketahanan pangan, hingga pencegahan stunting di Aceh Tamiang melalui program CSR berkelanjutan. (Dok. PEP Rantau)

Baca Juga: Jangan Lewatkan! Turnamen Voli Pantai Nasional Sedang Berlangsung di Pantai Glagah Kulon Progo

Energi Terbarukan untuk Komunitas dan Sekolah

Komitmen terhadap keberlanjutan diwujudkan lewat Program Desa Energi Berdikari. Melalui program ini, Inklusi Coffee dan Bengkel Difabel memperoleh pasokan energi bersih.

Penerapan energi terbarukan juga hadir di Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Aceh Tamiang melalui inisiatif Sekolah Energi Berdikari—pertama kalinya SLB dijadikan model sekolah energi di lingkungan Pertamina.

Baca Juga: Ribuan Warga Lombok Meriahkan InJourney Riders Parade MotoGPTM 2025, Tiket MotoGP Hampir Ludes

Pemanfaatan panel surya 3,3 kWP dan baterai 5 kWh di SLBN Aceh Tamiang mampu menghemat biaya hingga Rp6 juta per tahun.

Selain itu, inovasi ini berhasil menekan emisi karbon sebesar 1.565 KgCO2eq, menjadikan sekolah sebagai laboratorium transisi energi bagi para generasi muda.

Pangan Berkelanjutan dari Cabai hingga Melon

Baca Juga: InJourney Hospitality Gandeng Alpha IVF Group Malaysia, Layanan Fertilitas Kelas Dunia Segera Hadir di The Sanur

PEP Rantau memandang ketahanan pangan sebagai prioritas penting. Melalui program Future Farmers, lahan tidur 1,8 hektar berhasil disulap menjadi kebun cabai produktif bersama Kelompok Tani Tunas Muda di Kampung Tanjung Seumantoh.

Hasilnya, panen cabai yang berulang kali telah memberikan pendapatan signifikan bagi petani muda.

Pengurus Kelompok Tani Tunas Muda Kampung Tanjung Seumantoh, Amal Yudistira menyampaikan menerangkan cabai merupakan komoditi pangan di Aceh Tamiang.

Baca Juga: Trik Membawa Pakaian Dalam Saat Traveling Agar Tidak Perlu Terlalu Banyak

Kehadiran Pertamina EP Rantau Field sangat kami rasakan dalam membantu petani. Kita tahu menanam cabai itu rentan dan biaya menanam cukup besar dan kami berterima kasih sudah dibantu lewat program pemberdayaan ini," ungkapnya.

Selain cabai, program Melonesia (Smart Farming Kelompok Melon Mutiara Aceh Tamiang) memperkuat kapasitas petani dalam bercocok tanam berbasis teknologi.

Lebih dari 25 calon petani dari Desa Kebun Tanjong Seumantoh mengikuti Sekolah Lapang untuk mempelajari teknik budidaya melon. Pendampingan ini menyiapkan mereka sebagai tulang punggung pangan lokal sekaligus penyedia logistik ketika terjadi kondisi darurat.

Baca Juga: RDMP Balikpapan Capai Tahap Krusial, Unit Pendukung Kilang Siap Dorong Ketahanan Energi Nasional

Halaman:

Tags

Terkini