Kini, membatik bukan sekadar kegiatan mengisi waktu, melainkan bekal keterampilan dan rasa percaya diri untuk kembali ke masyarakat dengan profesi bermartabat.
Baca Juga: Hingga Agustus 2025, BRI Catat Transaksi Rp1.145,22 Triliun Melalui 1 Juta AgenBRILink
Batik Lapas Jambi bahkan telah memperoleh Hak Cipta untuk beberapa motifnya, termasuk batik angso duo, serta sembilan motif khas lapas yang sudah terdaftar HAKI, seperti motif pian puan dan motif korona.
Perlindungan ini memastikan keaslian sekaligus mendorong inovasi karya warga binaan.
Di Zona 4, kreativitas generasi muda Karang Taruna Desa Lubuk Raman, Kecamatan Rambang Niru, melahirkan Batik Khaman melalui Rumah Kreatif Boek Khaman.
Baca Juga: Rekomendasi Tempat Wajib Bagi Para Gamer di Seoul, Memuaskan Impian Bermain
Motif khasnya terinspirasi dari Buah Khaman (ejaan lama: Buah Ghaman), buah eksotis yang menjadi asal nama desa.
Dalam setiap helai batiknya, motif buah khaman dipadukan dengan Kapak Beliung sebagai Tumpal Bawah, simbol sejarah sekaligus penghormatan pada leluhur.
Dengan dukungan PHR, Batik Khaman berkembang menjadi identitas budaya sekaligus sumber ekonomi kreatif yang memperkuat daya saing pemuda desa.
Baca Juga: Jadwal Kapal Pelni Parepare–Balikpapan Oktober 2025: Info KM Bukit Siguntang & KM Lambelu
Keseluruhan inisiatif ini membuktikan bahwa kontribusi PHR bukan sekadar bantuan, tetapi juga wujud nyata kepedulian sosial, komitmen pada pelestarian budaya, dan upaya membangun kemandirian ekonomi.
Program batik binaan PHR menjadi jembatan mengubah tantangan sosial menjadi peluang sekaligus memastikan warisan budaya terus hidup.
Corporate Secretary PHR Regional 1 Sumatra, Eviyanti Rofraida, menegaskan, “Melalui dukungan kami terhadap batik-batik binaan PHR ini, kami tidak hanya merayakan Hari Batik Nasional, tetapi juga membuktikan bahwa program tanggung jawab sosial dan lingkungan dapat menciptakan kemandirian ekonomi, dan memastikan bahwa budaya kita terus hidup, memberdayakan, dan meningkatkan martabatkan masyarakat,” pungkasnya.***