Dalam proses pembangunan, Hutama Karya menghadapi tantangan terkait ketiadaan fasilitas produksi beton (batching plant) dan kendala logistik pengiriman semen di wilayah kepulauan.
Baca Juga: Bangkit Lagi! Pasar Seni ITB 2025 Sajikan Ruang Seni yang Inklusif dan Penuh Inovasi
Untuk mengatasi hal ini, tim proyek menerapkan solusi inovatif dengan membangun ready mix site di lokasi proyek serta melakukan koordinasi intensif bersama vendor, pihak dermaga, dan pemerintah kota terkait jadwal pengiriman material.
Kualitas pelaksanaan konstruksi terjaga dengan baik, dibuktikan melalui hasil pengujian laboratorium independen yang menunjukkan mutu beton sesuai dengan standar perencanaan.
Sebagaimana direncanakan sejak groundbreaking, RSUD Kota Bima akan menyediakan lebih dari 20 jenis pelayanan kesehatan modern.
Baca Juga: Respons Cepat BULOG: 270 Ton Beras Baru Dikirim ke Maluku Utara
Ada Instalasi Gawat Darurat (IGD), poliklinik spesialis, radiologi, ruang operasi dengan Catheterization Laboratory (Cath Lab), serta fasilitas perawatan intensif seperti ICU, NICU, dan HCU.
Rumah sakit ini juga dilengkapi layanan penunjang seperti farmasi, rehabilitasi medik, dan cytotoxic.
Dengan kapasitas 100 tempat tidur, RSUD Kota Bima telah memenuhi standar WHO yang menetapkan kebutuhan 1 tempat tidur per 1.000 penduduk, mengingat jumlah penduduk Kota Bima mencapai 163.820 jiwa pada 2024.
Baca Juga: Ingin Hemat Pengeluaran Selama Traveling dengan Masak, Ini Barang yang Wajib Dibawa
Pembangunan ini merupakan bagian dari program peningkatan kelas rumah sakit dari Tipe D menjadi Tipe C untuk mendukung layanan Kanker, Jantung, Stroke, dan Urologi (KJSU).
Dengan demikian, masyarakat tidak lagi harus menempuh perjalanan lebih dari tujuh jam ke rumah sakit provinsi untuk mendapatkan pelayanan tersebut.
Komitmen Keberlanjutan dan Dampak Ekonomi Lokal
Baca Juga: Pertamina NRE dan Singapore LNG Sepakat Kembangkan Bio-LNG Ramah Lingkungan
Dalam pelaksanaan pembangunan, Hutama Karya menerapkan teknologi konstruksi berkelanjutan dan ramah lingkungan, termasuk pemanfaatan air olahan IPAL untuk kebutuhan proyek.
Aspek keselamatan kerja (K3) menjadi prioritas utama dengan memastikan seluruh program QHSSE terimplementasi penuh.