Selama Semester I-2025, Garuda Indonesia berhasil menekan beban usaha menjadi US$1,50 miliar, turun dari US$1,53 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca Juga: Sejarah dan Ragam Mochi Jepang, Bentuknya Tidak Selalu Bulat
Meski demikian, profitabilitas masih belum tercapai karena tekanan dari kewajiban keuangan jangka panjang pasca restrukturisasi yang masih memengaruhi laporan keuangan perusahaan.
Salah satu fokus utama perusahaan saat ini adalah mengaktifkan kembali armada yang masih dalam kondisi tidak beroperasi (grounded), namun tetap menjadi beban biaya (sunk cost).
Keterbatasan jumlah armada operasional juga memengaruhi kemampuan perusahaan untuk menangkap potensi pasar yang tersedia.
Baca Juga: Electricity Connect 2025: Kolaborasi Global Menuju Kedaulatan Energi Nasional
Untuk menutup kekurangan armada tersebut, Garuda Indonesia Group dengan dukungan Danantara hingga awal Oktober 2025 telah berhasil mengaktifkan kembali lima unit Airbus A320 yang dioperasikan oleh Citilink.
Proses pemulihan ini ditargetkan terus berjalan hingga mampu mengaktifkan 15 armada Citilink pada akhir tahun 2025.
“Garuda Indonesia Group saat ini terus berupaya untuk memperbaiki kinerja di antaranya dengan peningkatan kapasitas produksi, serta fokus pada rute-rute penerbangan yang profitable yang salah satunya dilaksanakan melalui program restrukturisasi rute."
"Dengan berbagai upaya perbaikan ini dan dukungan penuh Danantara, kami targetkan di akhir tahun ini Garuda Indonesia akan dapat segera memperbaiki posisi ekuitas kami menjadi positif,” tutup Wamildan. ***