“Capaian tersebut semakin menguatkan posisi Pertamina sebagai kontributor utama produksi migas nasional, untuk minyak 69 persen dan gas 37 persen, sehingga dapat lebih optimal memasok kebutuhan energi nasional,” tambahnya.
Baca Juga: Cicil Emas Kini Semudah Buka Aplikasi, Yuk Coba di Tring! by Pegadaian
Selain menjaga ketahanan energi fosil, Pertamina juga menjalankan langkah konkret menuju swasembada energi dan transisi menuju energi bersih.
Dalam satu tahun pemerintahan Prabowo–Gibran, Pertamina mencatat sejumlah inovasi teknologi di sektor energi baru terbarukan (EBT), termasuk keberhasilan kilang Pertamina memproduksi Sustainable Aviation Fuel (SAF) berbasis minyak jelantah (Used Cooking Oil/UCO) serta implementasi Biodiesel 40 persen (B40).
Dukungan Pertamina terhadap agenda transisi energi juga sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo yang menekankan optimalisasi energi terbarukan, khususnya panas bumi.
Baca Juga: Kualitas WSBP Hadir di Proyek Gedung Ikonik Mandiri Financial Center PIK 2
Melalui anak usaha PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) di bawah Subholding Pertamina New and Renewable Energy, Pertamina kini mengelola kapasitas terpasang 727 MW dari enam wilayah operasi.
PGE menargetkan kapasitas 1 GW dalam 2–3 tahun ke depan dan 1,7 GW pada 2034.
Sebagai langkah lanjutan, PGE juga meluncurkan Pilot Project Green Hydrogen (Hidrogen Hijau) Ulubelu, yang menjadi tonggak pengembangan ekosistem green hydrogen secara menyeluruh — mulai dari produksi, distribusi, hingga pemanfaatannya untuk mendukung industri rendah karbon.
“Capaian tersebut semakin menunjukkan komitmen Pertamina dalam menyediakan energi bersih dan menambah pasokan secara berkelanjutan di masa depan,” ujarnya.***