“Dulu kami hanya menanam, sekarang kami juga mengolah, menjual, dan mengelola. Kami belajar menjadi desa yang Tangguh,” ungkap Sarbini.
Baca Juga: Telkom Akses Raih Dua Sertifikasi Internasional, Tegaskan Komitmen terhadap Tata Kelola dan Keamanan Informasi
Salah satu dampak nyata dari program ini terlihat pada efisiensi pengeringan hasil panen. Jika sebelumnya proses pengeringan secara tradisional memakan waktu 9 hingga 12 hari, kini dengan penggunaan Dry House berbasis briket jerami, waktu pengeringan hanya memerlukan 1 hingga 2 jam.
Suhu pengeringan pun stabil di kisaran 50º–60ºC, kadar air tanaman dapat dikontrol hingga mencapai standar 10%, dan hasil panen meningkat signifikan dari Rp 400.000–Rp 500.000 menjadi Rp 3.456.874 per bulan.
Dampak sosial dan ekonomi dari program ini sangat terasa. Pendapatan gabungan dari KWT Selaras Alam dan Kelompok Tani Barokah mencapai Rp 20,4 juta per bulan.
Baca Juga: Pertamina Bekali Pelaku UMK dengan Strategi Bisnis Berkelanjutan di UMK Academy 2025
Sebanyak 44 anggota mengalami peningkatan pendapatan, 12 orang berhasil keluar dari kemiskinan, dan 36 produk lokal telah memiliki legalitas dan layak jual.
Volume penjualan produk herbal meningkat hingga 35% setelah mengikuti berbagai pelatihan dan kerja sama dengan UMKM lokal.
Dari sisi lingkungan, pengelolaan limbah jerami dan pemanfaatan PLTS berhasil mengurangi emisi karbon setara 12,15 ton CO₂e per tahun.
Baca Juga: Promo TMII Spesial Hari Pahlawan, Diskon dan Tiket Gratis Berlaku sampai Akhir November!
Keberlanjutan program menjadi perhatian utama. Strategi yang diterapkan mencakup pelatihan teknis dan manajemen usaha, penguatan akses pasar berbasis Creating Shared Value (CSV), pembentukan kelembagaan lokal seperti KWT Selaras Alam dan Kelompok Tani Barokah, serta pengurangan intensitas pendampingan secara bertahap hingga penyerahan penuh kepada masyarakat dengan dukungan pemerintah.
Total investasi program dari tahun 2022 hingga 2024 mencapai Rp 796.215.500, sementara nilai manfaatnya mencapai Rp 1.382.523.956.
Analisis finansial menunjukkan hasil positif dengan Social Return on Investment (SRoI) sebesar 1,69 dan Payback Period selama 24,8 bulan.
Baca Juga: PT TIMAH Tbk Hadirkan Harapan Lewat Program Kesehatan dan Edukasi Gizi untuk Masyarakat
Program PERMATA melibatkan tujuh pemangku kepentingan utama secara aktif, termasuk Pemerintah Desa Pengabuan, Pertamina EP Adera Field, Dinas Pertanian Kabupaten PALI, Dinas Koperasi, LSM Carios, Kelompok Selaras Alam, dan Kelompok Tani Barokah.
Pelaporan dilakukan secara triwulanan dan tahunan, terintegrasi dalam Dokumen PROPER, serta didukung oleh Dashboard Monitoring & Evaluation (Monev).
Field Manager Adera, Adam S. Nasution, menyampaikan bahwa program ini berjalan sangat baik dan berharap ke depan dapat meningkatkan koordinasi serta memperluas efek pemasaran agar produk desa bisa menjangkau lebih banyak saluran penjualan.
Baca Juga: KAI Bandara Pastikan Penanganan Cepat Gangguan KA YIA, Layanan Penumpang Tetap Terjaga
Ia juga menekankan pentingnya pendampingan dari hulu ke hilir, mulai dari penyuburan tanah hingga pemasaran produk, dengan melibatkan akademisi dari Politeknik Universitas Sriwijaya dan stakeholder lokal seperti kepala desa.