Melindungi Alam, Menjaga Masa Depan
Baca Juga: AirNav Indonesia Siap Kawal Lonjakan Penerbangan di Musim Libur Nataru 2025/2026
Pagi itu, embusan angin laut membawa aroma asin dan suara debur ombak yang tak pernah berhenti.
Di antara lumpur dan akar mangrove muda, Alvian Noor Zamal berdiri dengan tangan kotor oleh tanah namun mata berbinar penuh semangat.
Penerima Beasiswa Pertamina sekaligus local hero Desa Mayangan, Subang, ini menanam bibit mangrove satu per satu bersama komunitas Kesatuan Komando Pembela Merah Putih (KKPMP) untuk menahan abrasi yang menggerus pantai Mayangan.
Baca Juga: Bangga! Mie Ongklok Wonosobo Resmi Jadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2025
Aksi tersebut merupakan bagian dari program Penanganan Abrasi dengan Inovasi Appostraps yang digagas oleh PHE ONWJ.
Bagi Alvian, kegiatan ini bukan sekadar menjaga pesisir, melainkan juga menanamkan semangat baru di hati masyarakat—bahwa menjaga laut berarti menjaga kehidupan mereka sendiri.
Sementara di ujung utara Jakarta, di antara pasir putih dan laut biru, Gunawan memimpin Karang Taruna 03 di Pulau Harapan, Pulau Kelapa, dan Pulau Sabira.
Di bawah terik matahari, mereka menanam mangrove, memungut sampah plastik, dan meneteskan keringat demi laut yang bersih.
Namun di balik kerja keras itu, tersimpan misi besar—menyelamatkan penyu dan mengubah kebiasaan lama.
Dulu, telur penyu dianggap santapan lezat.
Baca Juga: BULOG Perkuat Sinergi dengan BUMN Karya untuk Bangun 100 Infrastruktur Pasca Panen
Kini, berkat upaya mereka, penyu menjadi simbol kehidupan yang dijaga dengan kasih.
Melalui program Tiga Perisai (Mitigasi Perubahan Iklim dan Konservasi) bersama PHE OSES, Gunawan dan rekan-rekannya menanamkan kesadaran bahwa mencintai laut berarti menjaga masa depan.