"Karena itu, pembangunan infrastruktur akan diarahkan agar ramah lingkungan, terintegrasi dan efisien, meningkatkan kualitas hidup masyarakat, dan mendukung investasi dan pertumbuhan ekonomi,” tutur Mouris Limanto.
Baca Juga: Magang Hukum & Humas Pelindo: Peluang Emas Fresh Graduate Ilmu Komunikasi
Seminar ini juga menjadi ruang bagi SIG untuk memperkenalkan inovasi terbaru dalam proses produksi semen dan desain produk yang berorientasi pada rendah karbon.
Direktur Operasi SIG, Reni Wulandari, menjelaskan bahwa inovasi tersebut dirancang untuk memenuhi kebutuhan konstruksi termasuk pada wilayah berkondisi khusus seperti Batam yang memiliki karakteristik tanah lunak dan sulfat.
Selain semen rendah karbon, SIG turut menghadirkan rangkaian solusi konstruksi untuk lingkungan ekstrem, seperti semen tipe khusus, stabilisasi tanah, serta inovasi beton ThruCrete (beton berpori untuk mengurangi genangan dan menyerap air langsung ke dalam tanah) dan SpeedCrete (beton cepat kering untuk perbaikan jalan) guna meningkatkan durabilitas sekaligus efisiensi biaya pembangunan infrastruktur.
Baca Juga: Bakeri yang Menyediakan Salt Bread di Jakarta, Pilihan Rasanya pun Beragam
Dalam sambutan yang disampaikan pada forum tersebut, Wakil Direktur Utama SIG Andriano Hosny Panangian kembali menegaskan komitmen perusahaan terhadap pembangunan berkelanjutan sejalan dengan tren global industri konstruksi yang mengarah pada dekarbonisasi.
Ia menuturkan bahwa SIG berperan aktif dalam mendukung target Net Zero Emission melalui inovasi material dan teknologi.
“Kami percaya bahwa pembangunan Batam harus selaras dengan tren global agar tetap kompetitif dan berkelanjutan.
Baca Juga: PTPN IV Regional III dan Kejati Riau Mantapkan Kolaborasi untuk Stabilitas Investasi
"Melalui forum ini, kami mengajak seluruh pihak untuk berdiskusi aktif, menjajaki peluang proyek, dan bersama-sama mewujudkan Batam sebagai model pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
"Semoga seminar ini menghasilkan ide-ide strategis dan kemitraan yang berdampak nyata bagi masa depan Batam dan Indonesia,” ujar Andriano Hosny Panangian.***