Keamanan pasokan tersebut juga didukung oleh ketersediaan energi primer pembangkit.
Baca Juga: TelkomGroup Perkuat Penanganan Bencana di Sumatra dengan Bantuan Kemanusiaan dan Internet Satelit
Rata-rata Hari Operasional Pembangkitan (HOP) pembangkit berbahan bakar batu bara dan gas tercatat mencapai 22 hari, menandakan kondisi operasional yang stabil.
“Kami secara preventif sudah mempersiapkan dan memelihara setiap pembangkit kami, jaringan transmisi, jaringan distribusi, dan operasi layanan pelanggan sejak jauh-jauh hari sebelum memasuki periode Nataru,” jelasnya.
Sebagai langkah antisipatif, PLN menyiagakan sekitar 69 ribu personel yang bersiaga di 3.392 posko siaga PLN.
Baca Juga: Rayakan Pergantian Tahun 2026 dengan Pesta Kembang Api Spektakuler di Ancol
Posko-posko ini ditempatkan di berbagai lokasi publik strategis dan vital, seperti bandara, stasiun, terminal, rumah sakit, pusat perbelanjaan, serta tempat ibadah, yang seluruhnya didukung oleh suplai listrik berlapis guna menjaga keandalan layanan.
Di sisi lain, Adi juga mengungkapkan adanya lonjakan signifikan penggunaan kendaraan listrik selama periode Nataru.
Pada libur akhir tahun ini, jumlah pengguna kendaraan listrik diprediksi mencapai sekitar 26.000 unit, lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sebanyak 12.183 unit.
Baca Juga: Pertamina Drilling Rayakan HUT ke-68 dengan Aksi Donor Darah di Sumatera Selatan
Untuk mengantisipasi peningkatan tersebut, PLN menambah jumlah Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di jalur mudik Trans Sumatra–Jawa hingga tiga kali lipat dibandingkan Nataru tahun lalu.
“Kami menambah tiga kali lipat jumlah mesin SPKLU di sepanjang jalur mudik Trans Sumatra-Jawa.
"Tahun lalu jumlahnya sekitar 500, sekarang menjadi 1.515 yang tersebar di 865 titik,” terang Adi.
Secara nasional, PLN bersama mitra telah menyediakan total 4.514 unit SPKLU yang tersebar di 2.862 titik strategis di seluruh Indonesia.