Berkat kerja keras yang berkesinambungan, seluruh tahapan pengeboran hingga komplesi dapat diselesaikan dalam kurun waktu 42 hari.
Baca Juga: Tempat Brunch dengan Menu Roti di Bandung, Bisa Jadi Pilihan Sarapan Siang di Masa Libur Panjang
Sumur ini mencapai kedalaman akhir 2.150 mMD (2.091 mTVD) dengan target Formasi Kais, di mana hasil evaluasi menunjukkan kualitas reservoir yang lebih baik dibandingkan prognosis awal.
Didukung penerapan teknologi artificial lift Electric Submersible Pump (ESP) tipe MG3200, kinerja sumur ini menunjukkan hasil yang sangat menjanjikan.
Saat uji sumur dimulai pada Senin, 12 Desember 2025, produksi langsung tercatat sebesar 581,26 BOPD, melampaui estimasi awal 510 BOPD. Tren positif terus berlanjut, dan melalui pemantauan intensif, produksi mengalami peningkatan signifikan hingga pada Kamis, 18 Desember 2025, mencapai rata-rata 859 BOPD.
Baca Juga: Limbah Kayu Jadi Produk Bernilai, PHE OSES Dampingi Warga Pulau Kelapa
Seluruh upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil optimal ketika Sumur SLW-C4X mencatatkan Initial Production (IP) sebesar 1.014 BOPD, jauh di atas target yang ditetapkan.
Pembaruan terakhir bahkan menunjukkan performa SLW-C004 (SSP) yang stabil di level 1.109,80 BOPD.
Keberhasilan ini menegaskan bahwa inovasi berkelanjutan dan loyalitas tinggi tim dalam menghadapi tantangan mampu mengubah keterbatasan menjadi peluang. “Bahwa potensi brownfield di Papua masih sangat menjanjikan untuk terus digali,” tutup Ardi, Field Manager Papua Field. ***