Kabar BUMN - Token listrik prabayar kerap disamakan dengan pulsa seluler.
Padahal, keduanya memiliki mekanisme penggunaan yang berbeda.
Pulsa seluler berfungsi sebagai saldo untuk layanan komunikasi seperti internet, telepon, dan pesan singkat.
Sementara itu, token listrik prabayar merupakan alokasi energi listrik yang akan terus berkurang seiring pemakaian listrik di rumah.
Baca Juga: Mengapa Bulan Ramadan Sangat Istimewa? Ini Penjelasannya
Dalam sistem listrik prabayar, pelanggan membeli energi listrik di awal dalam satuan kilowatt hour (kWh), bukan dalam bentuk saldo rupiah.
Setiap kali listrik digunakan, jumlah kWh yang tercatat di meteran akan berkurang hingga habis dan perlu diisi ulang kembali.
Executive Vice President Komunikasi Korporat dan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT PLN (Persero), Gregorius Adi Trianto, menjelaskan bahwa sistem prabayar dirancang agar pelanggan dapat mengetahui sekaligus mengendalikan konsumsi listriknya sejak awal.
Baca Juga: PELNI Terapkan Satelit LEO untuk Memperkuat Komunikasi Armada Kapal
“Pada sistem prabayar, pelanggan membeli alokasi energi listrik dalam jumlah tertentu.
"Alokasi ini digunakan oleh seluruh peralatan listrik di rumah dan akan berkurang seiring pemakaian.
"Karena itu, total energi tersedia dalam satuan kilowatt hour (kWh),” ujar Gregorius.
Baca Juga: PHE ONWJ Gerak Cepat Salurkan Bantuan ke Korban Banjir Karawang
Ia menegaskan, dalam praktiknya penggunaan listrik tidak bisa dipisahkan berdasarkan fungsi atau peralatan tertentu.