Lonjakan tersebut, menurut Trismawan, sebagian besar didorong oleh pesatnya transaksi perdagangan digital dan e-commerce.
Selain itu, proyek ketahanan pangan serta berbagai inisiatif pemerintah juga diprediksi meningkatkan permintaan layanan logistik.
Baca Juga: Cari Wisata Segar Sebelum Ramadan? Niagara-nya Indonesia di Maros Ini Bisa Jadi Jawabannya
“Beberapa faktor domestik turut memperkuat pertumbuhan logistik, termasuk pesatnya transaksi e-commerce melalui media sosial, proyek hilirisasi industri, serta program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Merah Putih,” jelas Trismawan.
Dari kalangan akademisi, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) Solo, Lukman Hakim, menilai ekspor Indonesia pada 2026 masih memiliki peluang tumbuh, terutama dari sektor manufaktur.
“Selama ini ekspor kita ditopang manufaktur seperti sepatu dan tekstil, meski tekstil tidak sekuat dulu.
Baca Juga: Produksi Migas Terus Tumbuh, PEP Zona 4 Bukukan Kinerja Keuangan Solid Sepanjang 2025
"Dengan melemahnya nilai tukar, produk kita justru menjadi lebih kompetitif di pasar global,” ujarnya.
Menurut Lukman, tantangan tarif dan biaya masuk di sejumlah negara memang masih ada, namun tidak berlaku untuk semua produk.
Ia menilai peluang ekspor ke kawasan Timur Tengah dan Afrika masih terbuka lebar, asalkan pemerintah mampu melakukan pemetaan pasar secara tepat.
Baca Juga: Menaker RI Kunjungi PTBA, Perkuat Sinergi K3 dan Pengelolaan SDM
“Pemetaan pasar menjadi kunci untuk menentukan arah tujuan ekspor,” katanya.
Selain itu, dukungan terhadap pelaku usaha dinilai krusial, mulai dari kemudahan perizinan, kebijakan perpajakan, hingga akses pembiayaan.
Dari sisi logistik, keberadaan pelabuhan yang mampu disandari kapal berukuran besar dinilai akan meningkatkan efisiensi arus peti kemas tanpa harus transit di negara lain.
Baca Juga: Rekomendasi Tempat Wisata Indoor di Jakarta untuk Mengisi Akhir Pekan Anak di Musim Hujan