Fasilitas ini menjadi simpul penting dalam menjaga kestabilan distribusi LPG rumah tangga di seluruh Indonesia. Transformasi yang dilakukan di terminal ini menegaskan bahwa agenda keberlanjutan dimulai dari infrastruktur utama yang menopang sistem energi nasional.
Baca Juga: Tahun Kuda Api Dirayakan Meriah di Festival Pecinan TMII, Catat Jadwalnya!
Salah satu inovasi kunci dalam pengembangan Green Terminal adalah pembentukan ekosistem Green Hydrogen.
Melalui kolaborasi lintas entitas, PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) memproduksi hidrogen hijau berbasis panas bumi dari Ulubelu.
Selanjutnya, distribusi dilakukan oleh PT Elnusa Petrofin dan dimanfaatkan oleh PT Pertamina Energy Terminal (PET) sebagai sumber listrik rendah karbon di Tanjung Sekong, dengan target pemenuhan hingga 25% kebutuhan listrik operasional terminal serta penurunan emisi Scope 2 secara signifikan.
Baca Juga: Mudik Lebaran 2026 Lebih Aman dan Hemat, ASDP Siap Implementasikan Stimulus Pemerintah
Dari perspektif investor, program Green Terminal menunjukkan pengelolaan risiko non-finansial yang semakin terukur dan terstruktur.
Upaya dekarbonisasi operasional tidak hanya berdampak pada penurunan emisi, tetapi juga mendorong efisiensi energi. Selain itu, langkah ini turut mengurangi potensi risiko akibat fluktuasi biaya listrik konvensional di masa mendatang.
Agung menjelaskan, inisiatif ini juga mencerminkan pendekatan ESG yang semakin terintegrasi dalam strategi bisnis Pertamina. Aspek Environmental diwujudkan melalui penurunan emisi dan pemanfaatan energi baru terbarukan.
Baca Juga: Inspirasi Hampers Imlek untuk Teman Kantor, Sopan, Manis, dan Tidak Berlebihan
Aspek Social diperkuat melalui komitmen terhadap keselamatan kerja, pemberdayaan masyarakat sekitar, serta jaminan pasokan energi rumah tangga. Sementara aspek Governance tercermin dari penyederhanaan proses, penguatan pengawasan operasional, serta transparansi dalam pengukuran kinerja keberlanjutan.
“Ke depan, model Green Terminal di Tanjung Sekong akan menjadi referensi pengembangan terminal energi lainnya dalam jaringan Pertamina."
"Transformasi ini menegaskan bahwa keberlanjutan bukan lagi agenda tambahan, melainkan bagian dari strategi inti perusahaan dalam menjaga kedaulatan energi nasional sekaligus menciptakan nilai jangka panjang bagi pemangku kepentingan,” pungkas Agung. ***