PHSS, misalnya, menerapkan inovasi Through Tubing Electric Submersible Pump (TTESP) yang mampu meningkatkan produksi sumur hingga 150 persen.
Baca Juga: PT MUM Buka Lowongan Kerja Staf Financial Planning di Jakarta Selatan, Simak Kualifikasinya
Meskipun baru diterapkan pada empat sumur, teknologi ini telah memberikan kontribusi signifikan terhadap produksi minyak.
Selain itu, teknologi Pertasolvent juga terbukti meningkatkan produksi sumur hampir empat kali lipat dibandingkan kondisi awal.
Pertasolvent merupakan pelarut yang digunakan untuk mengatasi persoalan High Pour Point Oil (HPPO), yakni kondisi ketika minyak memiliki titik tuang lebih tinggi dibandingkan temperatur operasi pipa.
Baca Juga: Whoosh Beri Waktu 15 Menit untuk Reschedule, Penumpang Lebih Tenang
Teknologi ini telah diterapkan di Lapangan Mutiara dan Pamaguan.
Untuk produksi gas, PHSS memanfaatkan teknologi Capillary String yang efektif menekan potensi gangguan aliran sekaligus meningkatkan stabilitas produksi sekitar 0,36 juta standar kaki kubik per hari (mmscfd).
Di sisi lain, Pertamina EP Sangasanga mengimplementasikan Wellhead Compressor Mini Gas Compressor pada sumur-sumur borderless atau yang beririsan dengan wilayah kerja entitas Pertamina lainnya.
Baca Juga: Cari Kartu Imlek yang Fungsional Sekaligus Estetik? Ini Dia Mandiri e-Money 2026
Inovasi tersebut mampu meningkatkan produksi sumur bertekanan rendah hingga 15 kali lipat dari kondisi awal.
Bahkan, di lapangan TSS, stabilitas produksi gas tercatat mencapai 117 persen dari target yang ditetapkan untuk tahun 2025.
Kinerja operasional juga diperkuat melalui percepatan jadwal pengeboran dan intervensi sumur, dengan tetap mengedepankan keselamatan kerja dan perlindungan lingkungan.
“Pendekatan operasional migas yang terintegrasi dan penguatan budaya selamat menjadi fondasi dalam menjaga keberlanjutan kinerja PHSS dan PEP di Zona 9 dalam mendukung ketahanan energi nasional,” pungkasnya.***