Baca Juga: Lonjakan Arus Imlek 2026, 685 Ribu Kendaraan Tinggalkan Jabotabek dalam Empat Hari
Ribuan Green Jobs untuk Masyarakat Lokal
Selain dampak lingkungan, aspek sosial juga menjadi perhatian utama. Pembangunan 16 infrastruktur energi hijau di berbagai titik di Sumatera Utara dan Banten diproyeksikan menyerap tenaga kerja dalam jumlah signifikan.
“Kami memproyeksikan adanya penyerapan tenaga kerja yang masif. Pada fase konstruksi saja, setiap titik pabrik membutuhkan sekitar 50 hingga 100 orang pekerja."
"Jika diakumulasikan dari 16 lokasi, kita berbicara tentang potensi 800 hingga 1.600 lapangan kerja baru yang terbuka bagi masyarakat sekitar,” jelas Jatmiko.
Baca Juga: Batch 1 Tahun 2026 Resmi Dibuka! Ini Syarat Magang BUMN di Peruri Jakarta Selatan
Ia juga menekankan pentingnya peningkatan kompetensi sumber daya manusia melalui transfer pengetahuan dalam pengoperasian teknologi biometana.
“Ini bukan sekadar pekerjaan konstruksi biasa. Ini adalah Green Jobs. Setelah pabrik berdiri dan dioperasionalkan, kami membutuhkan tenaga ahli dan operator yang kompeten untuk menjalankan teknologi biometana ini.
Estimasi kami, setiap pabrik akan diawaki oleh 8 hingga 10 personel tetap. Artinya, PTPN IV PalmCo turut andil dalam mencetak talenta-talenta baru yang siap bersaing di era ekonomi hijau,” tambah Jatmiko dengan optimis.
Baca Juga: Tips Mengurangi Minuman Manis dalam Keseharian untuk Menghindari Asupan Gula Berlebih
Sebaran Lokasi dan Kontribusi pada Target NZE
Rencana pembangunan 16 pabrik CBG ini mencakup sejumlah wilayah operasional PalmCo dengan dukungan biomassa dari 17 PKS. Di Sumatera Utara, proyek tersebar di Kabupaten Simalungun, Serdang Bedagai, Labuhan Batu, serta Labuhan Batu Selatan.
Sementara di Provinsi Banten, ekspansi dilakukan di Kabupaten Lebak.
Baca Juga: Mudik Naik Kapal Bisa Lebih Hemat, PELNI Beri Diskon 30 Persen untuk Lebaran 2026
Secara teknis, masing-masing pabrik dirancang memproduksi 75.000 hingga 200.000 MMBTu gas biometana per tahun. Energi tersebut akan dimanfaatkan sebagai pengganti bahan bakar fosil.
Menutup penjelasannya, Jatmiko memaparkan bahwa proyek ini sejalan dengan target Net Zero Emission (NZE) Indonesia tahun 2060 serta sasaran penurunan emisi nasional sebesar -140 juta ton CO₂e pada 2030 sebagaimana tertuang dalam Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 194 Tahun 2025 dalam kerangka komitmen Nationally Determined Contribution (NDC).
“Jika ke-16 pabrik ini beroperasi penuh, kami mengestimasi potensi pengurangan emisi karbon mencapai 350.000 Ton CO2 ekuivalen (CO2e) per tahun."