rilis-bumn

USAT Jadi Senjata Baru PEP Rantau Tekan Risiko Kepasiran dan Dongkrak Produksi

Selasa, 24 Februari 2026 | 15:00 WIB
Inovasi USAT Pertamina EP Rantau tekan risiko kepasiran, hemat biaya rig 50% dan kurangi loss produksi sejak 2024 hingga 2025. (Dok. Pertamina)

Kabar BUMN – Terobosan bertajuk Ultimate Sand Trap (USAT) yang digagas oleh para perwira di Pertamina EP Rantau sukses menurunkan risiko kehilangan produksi akibat persoalan kepasiran.

Perangkat tambahan yang dipasang pada bagian tengah tubing pompa ini terbukti memberi dampak signifikan, tidak hanya menekan potensi kerugian tetapi juga berkontribusi pada peningkatan pendapatan hingga miliaran rupiah.

Kehadiran USAT menjadi langkah strategis dalam menjaga keberlanjutan produksi di lapangan yang telah memasuki fase mature.

Baca Juga: Mengalirkan Energi untuk Negeri, 19 Tahun Pertagas Dimaknai Lewat Berbagai Aksi Sosial

Field Manager (FM) Pertamina EP Rantau Tomi Wahyu Alimsyah mengungkapkan bahwa sumur-sumur migas yang telah lama beroperasi di wilayah kerja tersebut kerap menghadapi persoalan pasir yang ikut terangkat bersama fluida.

Kondisi ini menyebabkan gangguan pada pompa dan menghambat optimalisasi pengangkutan minyak mentah (crude oil). Masalah kepasiran tersebut menjadi tantangan serius dalam menjaga stabilitas produksi.

“Sebelumnya inovasi yang diterapkan untuk mengatasi masalah kepasiran adalah We Are Fines di tahun 2023. Kemudian USAT dikembangkan dan diaplikasikan sejak 2024 untuk melengkapi inovasi sebelumnya. Dengan begitu masalah kepasiran di beberapa aspek bisa teratasi,” terang Tomi.

Baca Juga: InJourney Hospitality Borong Dua Penghargaan di PRIA 2026, Tegaskan Komitmen Transparansi

Implementasi metode We Are Fines kini telah menjangkau seluruh sumur minyak yang dikelola PEP Rantau Field. Adapun teknologi USAT hingga September 2025 telah dipasang di tiga sumur, yakni P-420, P-383, dan P-406.

“Tadinya, sebelum diterapkan We Are Fines dan inovasi USAT ini angka resikonya mencapai 62%. Kami optimistis, dengan penerapan menyeluruh ini akan meningkatkan penghematan yang semakin meningkat di tahun 2025,” katanya.

Tomi menambahkan, USAT dirancang untuk memperpanjang masa operasi pompa, khususnya pada sumur yang menggunakan Electric Submersible Pump (ESP).

Baca Juga: Ragam Nasi Khas Timur Tengah yang Mudah Ditemui di Indonesia, Cita Rasa Rempahnya Tajam

Pompa jenis ini rentan mengalami kerusakan akibat pasir yang terbawa ke permukaan. Dari total 87 sumur di PEP Rantau Field, sebanyak 29 sumur mengandalkan pompa ESP sehingga inovasi ini menjadi sangat krusial.

Dalam penerapannya, tim memasang aksesori USAT di bagian tengah tubing pompa untuk menahan pasir yang mengalami fallback di dalam sumur.

Dengan mekanisme tersebut, pasir tidak masuk ke pompa melainkan tertahan di sela antara USAT dan tubing. Sistem ini menjaga pompa tetap berfungsi optimal dalam mengalirkan fluida ke permukaan, bahkan memungkinkan reserve circulating ketika terjadi sumbatan.

Halaman:

Tags

Terkini