Kabar BUMN – Suara lonceng di lereng Gunung Agung menjadi penanda harapan baru bagi alam dan masyarakat.
Di Pura Kancing Gumi, Bali, doa-doa dilayangkan setinggi 250 meter dari permukaan laut, memohon keselamatan dan kesejahteraan.
Namun, warga Hutan Mahawana Basuki Besakih menyadari bahwa harapan harus dibarengi dengan aksi nyata.
Baca Juga: Kartu Kredit Mandiri Hilang? Ini Langkah Aman yang Harus Kamu Lakukan
Melalui filosofi Tri Hita Karana, yang menekankan keseimbangan hubungan manusia, Tuhan, dan alam, Pertamina menghadirkan program Hutan Lestari.
Inisiatif ini muncul pasca-erupsi Gunung Agung pada 2017, bukan hanya untuk menghijaukan kembali lereng yang sempat mati suri, tetapi juga menghidupkan ekonomi warga desa.
I Nyoman Artana, sosok lokal yang berperan penting, menekankan pentingnya menjaga Besakih sebagai Huluning Bali Rajya atau hulu dari Pulau Dewata.
Baca Juga: Jadwal Kids Fun Jogja Selama Periode Lebaran 2026, Catat Jam Operasional Terbarunya
"Mengelola lingkungan harus dimulai dari hulu. Jika lokasi ini tidak dipelihara dengan baik, Bali akan rentan terhadap bencana dan perubahan iklim," ujarnya.
Perhatian pada “hulu” membuahkan hasil nyata. Kelompok binaan Nyoman mampu memanen 100 hingga 150 kg madu setiap tahun, dengan harga jual Rp500.000 per liter untuk madu kelanceng yang berkualitas tinggi.
Selain itu, wisata alam di kawasan ini mengalami lonjakan signifikan, dengan pendapatan kelompok mencapai Rp120 juta per bulan dan membuka lapangan kerja bagi puluhan warga.
Baca Juga: Lowongan Magang Kimia Farma 2026, Cocok Buat Kamu yang Tertarik Dunia HR
Di Lampung, hutan juga mengubah kehidupan Wastoyo. Dulu ia menebang pohon untuk bertahan hidup, kini ia menjadi pelindung hutan.
"Dulu, menebang pohon adalah cara instan kami untuk menyambung hidup karena ketidaktahuan. Kami terjebak dalam siklus perusakan demi sesuap nasi," kenangnya.