Sebagai Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Wamentan Sudaryono menegaskan bahwa Bulog memiliki peran strategis sebagai penyangga harga dalam sistem pangan nasional.
“Penjamin harga itu Bulog. Ketika harga jatuh, negara hadir melalui Bulog dengan membeli gabah dari petani dengan harga yang baik sehingga kesejahteraan petani terjamin,” ujarnya.
Baca Juga: Dari Dapur Rumah ke Pasar Lebih Luas, Perjalanan Mardiana Bangun Usaha Bersama PNM Mekaar
Ia menjelaskan bahwa Bulog menyerap sekitar 10 hingga 15 persen dari total produksi beras nasional.
Dengan produksi sekitar 34,5 juta ton, cadangan yang dikelola Bulog berada di kisaran 3,6 hingga 3,7 juta ton sebagai buffer stock.
Menurutnya, intervensi tersebut menjadi krusial terutama saat panen raya, ketika suplai melimpah dan berpotensi menekan harga di tingkat petani.
Baca Juga: Festival Danau Sentani 2026 Siap Digelar Agustus, Strategi Baru Bidik Wisatawan Internasional
Sebaliknya, saat produksi menurun dan harga cenderung meningkat, cadangan beras akan digelontorkan ke pasar guna menjaga harga tetap stabil dan terjangkau.
“Jadi harga di tingkat petani dijaga melalui HPP, dan di tingkat konsumen dijaga melalui HET agar keduanya tidak dirugikan,” jelasnya.
Wamentan Sudaryono juga menambahkan bahwa penguatan peran Bulog didukung oleh kebijakan pemerintah, termasuk Instruksi Presiden terkait percepatan serapan gabah nasional.
Baca Juga: Dari YIA ke Stasiun Tugu Naik KA Bandara: Cek Tarif Lengkap 2026, Bisa Langsung Jalan ke Malioboro!
Ia menyebut target serapan sebesar 3 juta ton pada tahun 2025 ditopang oleh alokasi anggaran sekitar Rp16,5 triliun.
“Untuk mengelola pangan negara, dibutuhkan aturan yang kuat dan dukungan anggaran yang memadai. Karena itu, peran Bulog terus diperkuat,” pungkasnya.***