Pimpinan CV Mola Maju Basamo, Desrico Apriyus, masih mengingat betul bagaimana titik balik itu bermula pada 2020 silam, saat pandemi COVID-19 membuat banyak usaha terhenti, bahkan gulung tikar.
Baca Juga: Ragam Gulai Khas Indonesia, Kuliner yang Mengadopsi Kari India Agar Lebih Sesuai dengan Selera Lokal
“Waktu itu hampir semua orang kesulitan menjual produk. Ekonomi seperti lumpuh. Tapi justru di situ PTPN hadir. Mereka menyerap produk kami, membimbing kami, dan membantu kami, sehingga kami tetap bisa berproduksi di tengah situasi yang sulit,” ujarnya.
Waktu berjalan, kemitraan berkembang lebih dalam.
Pada tahun berikutnya, PTPN tidak hanya hadir sebagai offtaker, tetapi juga memberikan dukungan permodalan melalui program kemitraan senilai Rp800 juta.
Baca Juga: Semangat Kartini Jadi Landasan PLN Perkuat Peran Perempuan di Srikandi Movement
Suntikan modal itu menjadi bahan bakar penting bagi lompatan berikutnya. Bengkel-bengkel kecil yang sebelumnya tersebar dan terbatas mulai terkonsolidasi.
Dari satu titik produksi, berkembang menjadi sentra produksi. Dari sekadar Kelompok Usaha Bersama (KUB), mereka bertransformasi menjadi badan usaha.
Produk yang awalnya dipandang sebelah mata, telah menjelma menjadi kebanggaan desa. Dan telah bersertifikasi nasional pula.
Baca Juga: Tinjau Langsung ke Sorong, Komisaris Pertamina Cek Stok BBM dan LPG
Di saat yang sama, perubahan cara kerja pun mulai terjadi. Teknologi perlahan masuk, menggantikan metode konvensional yang selama ini membatasi kapasitas produksi.
“Tanpa kehadiran PTPN, sulit dibayangkan kami bisa menghasilkan produksi sampai 1.000 produk perhari," ujarnya.
Alumni salah satu perguruan tinggi negeri Riau itu mengatakan bahwa bantuan PTPN saat ini menjadi tulang rusuk usaha desa.
Baca Juga: 3 Rumah Pahlawan Wanita Indonesia yang Terus Dipertahankan Sebagai Museum
Di bengkel sederhana yang berdiri kokoh di bawah rindangnya pohon mahoni itu, terdapat empat air hammer yang siap memproduksi peralatan pertanian berkualitas tinggi.