"Ini semua dari PTPN. Ada yang bantuan bergilir dan bergulir, ada yang hibah," tuturnya.
Dan kini, dengan tambahan alat dan peningkatan kapasitas, jumlah tenaga kerja yang sebelumnya hanya belasan orang kini telah mencapai 23 karyawan, dan akan bertambah menjadi 33 orang dalam waktu dekat.
Baca Juga: Bangun Legacy Bersama, InJourney Dinobatkan Great Place to Work 2026
Tak berhenti di situ, sekitar 100 pemuda desa juga dilibatkan sebagai mitra pemasaran, baik secara daring maupun langsung ke pasar-pasar dan petani.
Efek berantai mulai terasa. Pengangguran berkurang, aktivitas ekonomi meningkat, dan daya beli masyarakat perlahan membaik.
“Multiplier effect-nya jelas. Dengan produksi meningkat, kami butuh lebih banyak tenaga kerja. Itu membuka lapangan pekerjaan. Masyarakat juga ikut merasakan dampaknya,” paparnya.
Baca Juga: Gerak Nyata Pertamina, Akses Cek Dini Kanker Payudara Makin Luas
Kesejahteraan pekerja pun ikut terdongkrak. Jika sebelumnya penghasilan relatif terbatas, kini rata-rata karyawan bisa memperoleh sekitar Rp7 juta per bulan.
Dengan efisiensi dan peningkatan produksi, angka tersebut diproyeksikan naik hingga Rp10 juta sampai Rp15 juta per bulan.
Tak hanya berhenti pada aspek ekonomi, geliat usaha ini juga membawa dampak sosial bagi Desa Teratak.
Baca Juga: Tetap Prima di Tanah Suci, Ini Tips Menjaga Kesehatan Selama Ibadah Haji
Sebagian keuntungan usaha mulai dialirkan untuk mendukung berbagai kegiatan sosial masyarakat, memperkuat ikatan komunitas yang selama ini menjadi fondasi kehidupan desa.
Di sisi lain, Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko Santosa, menegaskan bahwa pendekatan yang dilakukan perusahaan memang dirancang untuk menciptakan dampak jangka panjang.
Menurutnya, program TJSL dilangsungkan untuk membangun ekosistem ekonomi yang mampu tumbuh secara mandiri.
Baca Juga: Dahana Tembus Pasar Australia, Ekspor Perdana 18.000 Ton Amonium Nitrat