"Kalau 5 ton per hari, kebutuhan dalam negeri bisa tercukupi,” lanjutnya.
Baca Juga: Diversifikasi Pasokan Energi, PGN dan PTBA Gagas Proyek Gasifikasi Batu Bara Jadi SNG
Peran PTBA dalam program ini sangat krusial.
Samadi bahkan menyebut perusahaan sebagai “orang tua” bagi komunitas pengrajin tusuk sate yang kini sudah memiliki workshop mandiri dan pasar terpusat (central market).
Tak hanya menciptakan ekonomi yang inklusif, semangat berbagi juga tumbuh dari keuntungan usaha.
Baca Juga: Beasiswa BIDIKSIBA PTBA Bantu Anak Buruh Harian Raih Impian Duduk di Perguruan Tinggi
Setiap bulan, Rp6-8 juta dari laba disisihkan untuk operasional Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Mutiara Ummat Insani yang kini membina 37 santri.
Human Resources, General Services, Finance & CSR Department Head Pelabuhan Tarahan, Hamdani, menyatakan pentingnya kolaborasi untuk mengakhiri ketergantungan pada produk luar.
“PTBA menjalankan program ini melalui kolaborasi dengan pemerintah, para praktisi, dan masyarakat agar tusuk sate bisa diproduksi seluruhnya di dalam negeri,” ujarnya.
Baca Juga: Khusus yang Berdomisili di Denpasar, Ada Lowongan Kerja di PT Mitra Utama Madani (PNM Group)
Sebenarnya, Bamboo for Life telah dimulai sejak 2014 sebagai inisiatif restorasi lahan kritis melalui penanaman bambu.
Hingga kini, sebanyak 13.624 pohon bambu telah ditanam di area seluas 49 hektare di berbagai wilayah Lampung.
Program ini tak hanya menyuburkan tanah, tetapi juga menyumbang pengurangan emisi karbon sebesar 3.509 ton CO2e per tahun.
Tak berhenti pada tusuk sate, hilirisasi bambu dari program ini juga menghasilkan berbagai produk turunan lainnya seperti cuka bambu, pupuk organik cair, hand sanitizer, obat herbal, dan disinfektan.