Perusahaan kereta api Staatsspoorwegen (SS) membeli lokomotif uap B51 sebanyak 44 buah dari 3 pabrik berbeda, yaitu Hannoversche Maschinenbau AG atau atau Hanomag (Hannover, Jerman), Sachsische Maschinenfabrik atau Hartmann (Chemnitz, Jerman), dan Werkspoor (Amsterdam, Belanda). Semua lokomotif B51 ini didatangkan secara bertahap pada tahun 1900-1910.
Dulu, Lokomotif B51 digunakan untuk menarik kereta penumpang lokal di rute Tanah Abang – Rangkasbitung – Merak, rute Kertosono – Madiun – Blitar dan rute Babat – Jombang, untuk memenuhi kebutuhan transportasi kereta api di Sumatra Selatan, maka 5 lokomotif B51 milik SS dipindah dari Jawa ke Sumatra Selatan.
Pada masa pemerintah Jepang, 1 lokomotif B51 dipindah dari Jawa ke Sumatra untuk melayani jalur kereta api rute Muaro (Sumatra Barat) – Pekanbaru (Riau).
Baca Juga: Pertamina Ajak 800 UMK Naik Kelas, Melalui UMK Academy dan Pertapreneur Aggregator 2023
Lokomotif uap ini menggunakan bahan bakar kayu jati dan dioperasikan di jalur datar. Lokomotif B51 memiliki daya 450 dengan kecepatan layanan 80 km/jam. Beratnya sebesar 31,2 ton dan berat tender 20,6 ton dengan dimensi panjang 14,282 meter, lebar 2,5 meter dan tinggi 3,7 meter.
Walaupun sudah hampir 30 tahun lebih dalam keadaan mati namun kondisi ketel lokomotif B51 12 relatif masih baik. Sehingga di tahun 2011-2014 dilakukan resotorasi guna menarik rangkaian Kereta Wisata di Ambarawa.
3. Lokomotif C12
Baca Juga: Pertamina Desa Wisata Wujud Nyata ESG Membangun Ekonomi Daerah
Diproduksi tahun 1892–1902 oleh pabrik Hartmann (Jerman), lokomotif ini bertugas untuk dinas langsir atau lokomotif penarik kereta penumpang/barang pada rute jarak pendek dan datar di pulau Jawa.
Lokomotif C12 memiliki berat 31,3 ton dan panjang 8,575 meter dengan kecepatan layanan 45 km/jam serta memiliki daya 360. Lokomotif dengan tekanan 10 atm ini memiliki daya tarik 4500 kg.
Dari 43 buah lokomotif C12, saat ini masih tersisa 3 buah, yaitu C12 06, C12 18 dan C12 40. C12 06 (mulai operasional tahun 1895) di pajang di museum Transportasi, Taman Mini Indonesia Indah (Jakarta). C12 40 (mulai operasional tahun 1891) dipajang di Indonesian Railway Museum Ambarawa (Jawa Tengah). C12 18 sendiri mulai operasional tahun 1896.
Baca Juga: Percepat Transformasi Keuangan Digital, PNM Beri Pelatihan ke 1.700 Nasabah Mekaar
Pada tahun 2002, lokomotif C12 18 dibawa dari Cepu ke Ambarawa dalam kondisi rusak. Lalu awal tahun 2006 mulai diperbaiki dan dirawat dengan teliti sehingga kondisinya makin baik. Pada 3 Juni 2006, mulai dioperasionalkan setelah hampir 25 tahun dalam kondisi mati.
Pada bulan September 2009, atas permintaan dari Pemerintah Kota Solo, lokomotif uap C12 18 dipindahkan dari Ambarawa ke Solo, untuk dijadikan sebagai penarik Kereta Api Wisata Jaladara dengan rute Purwosari – Solo Kota.
4. Lokomotif D14
Lokomotif uap ini didatangkan oleh Staatsspoorwegen (SS) yang berasal dari 2 pabrikan berbeda. Lokomotif D14 bernomor 01 sampai 12 buatan, Hanomag, Hannover, Jerman, sedangkan yang bernomor 13-24 buatan Werkspoor, Belanda. Tahunnya pun berbeda, yaitu buatan tahun 1921 untuk D14 bernomor 01-12, dan tahun 1922 untuk yang bernomor 13-24.
Artikel Terkait
Deretan Kereta Cepat Tercepat Di Dunia, Mulai dari China, Italia, Spanyol dan Jepang
Angkut Ratusan Ribu Lebih Penumpang, KAI Ungkap Daftar 10 Kereta Api Paling 'Laris' Selama Idul Adha
Miniatur Lokomotif Terbesar Se-Indonesia Hadir di Museum Lawang Sewu
Banyak Akun Twitter Palsu KAI Bertebaran, PT KAI Imbau Masyarakat Lebih Waspada
Program SDM KAI Diganjar Empat Penghargaan Human Capital on Resilience Excellence Award 2023