Nilai ekonomi bagi mereka yang aktif memilah dan menimbang sampah pun juga ikut bertambah.
“Sebelum ada program Warung Sikumbang, 94% pemilik warung belum ada yang memilah sampah. Dan kini kita bisa melihat pergeseran perilaku dari para pedagang ketika paham ada nilai ekonomi untuk tambagan hidup mereka. Artinya, program TJSL memang perlu dikemas dengan memperhatikan bukan hanya aspek lingkungan tetapi juga sosial dan ekonomi,” tambah Dirut PNM.
“Jika kita konsisten dengan kebiasaan memilah sampah ini, tiga masalah dasar masyarakat akan mampu kita atasi bersama. Masalah ekonomi, sosial dan lingkungan bisa kita selesaikan” ujar Arief lagi.
Sebagai perusahaan yang berfokus pada pemberdayaan nasabah melalui pembiayaan dan pendampingan, PNM paling tidak membantu pemerintah dalam mencapai 11 dari 17 indikator pembangunan berkelanjutan (SDGs) yang mencakup aspek ekonomi, sosial dan lingkungan.
Satu tahun berjalan, program Warung Sikumbang telah mencakup ketiga aspek tersebut dengan potensi pengurangan emisi karbon sebanyak 398kg CO2e.
PNM tidak berhenti pada upaya memberikan pembiayaan dan pendampingan berkelanjutan sampai pada naik kelasnya usaha mikro dan ultra mikro menjadi lebih berdaya.
Pembiayaan dan pendampingan secara berkesinambungan inilah yang menjadi pembeda PNM dengan lembaga pembiayaan lain.
Artikel Terkait
Bisa Halau Panas, Ini 5 Rekomendasi Model Topi yang Cocok Dipakai saat Traveling
Gunakan SPKLU PLN, Crew Dorna Sport: It's Very Good and Very Fast
Lagi Viral Summarecon Villagio, Tempat Belanja Barang Branded Terbaru di Karawang
PLN Icon Plus Dorong Klungkung Menuju Smart City
Dukung Perhelatan MotoGP 2023, Hutama Karya Rampungkan Proyek Paket 2 Mandalika Urban & Tourism Project