Potensi penambahan kapasitas terpasang melalui implementasi co-generation ini sampai dengan 230 MW. Untuk saat ini lokasi yang menjadi prioritas untuk dilakukannya FS adalah Ulubelu Bottoming Unit (BU) 30 MW dan Lahendong BU 15 MW.
Sementara itu, Bernadus menilai, dengan diwujudkannya JDSA ini sesungguhnya menjadi bentuk pencapaian penting.
Ia juga menyebut kemitraan ini sebagai langkah awal yang tepat untuk mewujudkan transisi energi dan upaya tinggal landas menuju pertumbuhan bisnis panas bumi yang lebih baik ke depan.
“PGE dan PLN IP berkomitmen untuk mengupayakan percepatan penyelesaian PPA sehingga target operasi juga dapat diraih lebih cepat,” ujarnya.
Ditambahkan Julfi, kolaborasi dan sinergi menjadi kunci untuk mempercepat pertumbuhan potensi panas bumi Indonesia.
“Kami optimistis JDSA ini akan berkontribusi secara signifikan dalam mencapai aspirasi PGE untuk menjadi 1 GW company,” ujar Julfi.
Kedua pihak bersepakat untuk mempercepat proyek ini dan menjadikannya sebagai model bisnis untuk pengembangan panas bumi ke depan.
Baca Juga: PLN Indonesia Power Berhasil Raih 2 Penghargaan Asian Technology Excellence Awards 2023
JDSA ini diharapkan dapat mempercepat pengembangan PLTP untuk mendukung transisi energi terutama dengan karakteristik panas bumi sebagai beban listrik dasar (baseload).***
Artikel Terkait
Berangkat ke Jepang, PLN Indonesia Power Makin Garang Kembangkan Energi Terbarukan
Kolaborasi dengan JETP, PLN Indonesia Power Siap Akselerasi Transisi Energi
PLN Indonesia Power Raih 11 Penghargaan Environmental and Social Innovation Awards - ENSIA 2023
Pertamina Geothermal Energy Jajaki Kerjasama dengan AGIL untuk Kembangkan Konsesi Longonot di Kenya
Pertamina Geothermal Energy dan Chevron Tandatangani Perjanjian WKP Way Ratai
Bermitra dengan Chevron dan Mubadala Energy, Pertamina Geothermal Energy Jajaki Peluang Panas Bumi di Kotamobagu