PT Hutama Karya (Persero), atau Hutama Karya, pastikan pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) tak rusak ekosistem setempat. JTTS merupakan proyek pembangunan yang menunjang aspek ramah lingkungan karena melewati berbagai prospek kajian terdahulu.
Contohnya adalah adanya peninjauan kualitas air permukaan, kualitas udara hingga unsur bentang alam. Selain itu, pembangunan JTTS juga memantau dan memperhitungkan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Proses ini dinilai menjadikan JTTS proyek yang ramah lingkungan.
JTTS merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) melalui Peraturan Presiden Nomor 100 Tahun 2014 tentang Percepatan Pembangunan Jalan Tol di Sumatera, kemudian Perpres tersebut disempurnakan menjadi Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 117 Tahun 2015 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 100 Tahun 2014 tentang Percepatan Pembangunan Jalan Tol di Sumatera.
Berdasarkan kedua Perpres tersebut, Hutama Karya mendapatkan penugasan dari pemerintah untuk membangun Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) yang meliputi pendanaan, perencanaan teknis, pelaksanaan konstruksi, pengoperasian dan pemeliharaan, dalam rangka pengembangan kawasan di Pulau Sumatra. Tentu pada dasarnya masih terdapat sejumlah tantangan yang harus dilewati dalam pembangunan jalan tol di Pulau Sumatera ini.
Tercatat hingga saat ini sepanjang 531 kilometer JTTS telah dioperasikan oleh perusahaan dan dapat dilalui oleh masyarakat. Melalui akun Instagram resminya, Presiden Republik Indonesia (RI) Joko Widodo memperlihatkan tayangan kondisi terkini jalan tol pertama di Pulau Sumatra itu. Ia juga menyampaikan banyak manfaat atas terbangunnya JTTS.
“Jalan tol Trans Sumatera akan memangkas waktu tempuh antar daerah, memperlancar arus barang, dan menghidupkan titik-titik perekonomian baru di sepanjang Pulau Sumatra. Pembangunan dan pengoperasiannya juga menyerap ratusan ribu tenaga kerja,” ujar Jokowi melalui akun media sosial resminya.
Lakukan AMDAL dan Pendekatan Teknologi
Direktur Operasi III Hutama Karya, Koentjoro menyampaikan bahwa selain memiliki progress yang signifikan, Hutama Karya memastikan bahwa dalam pembangunan hingga pengoperasian JTTS, perusahaan telah melakukan berbagai kajian dan analisis dampak kehadiran JTTS bagi lingkungan dan masyarakat, sehingga mitigasi risiko dapat dilakukan sejak awal.
“Pembangunan dan pengoperasian JTTS kami pastikan tidak merusak ekosistem. Kami sudah hitung AMDAL-nya, dan seperti yang disampaikan oleh Pak Presiden bahwa kehadirannya membawa banyak dampak dan manfaat bagi masyarakat khususnya di Sumatera,” ujar Koentjoro.
Hutama Karya turut memperhatikan setiap tahapan dalam proses pembangunan jalan tol. Hal ini dilakukan sebagai upaya perusahaan untuk meminimalisir dampak negatif dan mengoptimalkan dampak positif yang terjadi dalam pembangunan tersebut. Aspek penting dalam proses pembangunan jalan tol yakni tersedianya Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).
Kerapkali komponen lingkungan baik fisik maupun kimia timbul sebagai dampak potensial dalam tahapan konstruksi pembangunan jalan tol. Dampak potensial yang timbul diantaranya yakni penurunan kualitas air permukaan, penurunan kualitas udara hingga perubahan bentang alam. Hal tersebut pada dasarnya telah menjadi perhatian Hutama Karya saat melakukan proses kajian sebelum tahap konstruksi dimulai.
Koentjoro menyampaikan bahwa beberapa tindakan yang telah dilakukan oleh perusahaan untuk mengatasi timbulnya permasalahan tersebut yakni penggunaan alat berat, kendaraan dan mesin pendukung yang layak pakai serta terkontrol segi emisi nya, memindahkan drainase eksisting / membuat drainase sementara untuk mengganti drainase eksisting selama pekerjaan tanah berlangsung, perencanaan dan pelaksanaan cut and fill (menguruk tanah) sesuai dengan prosedur yang berlaku mengacu pada SNI dan standar teknis, melakukan penanganan permukaan yang miring dengan perkerasan atau penanaman rumput.
Tak hanya itu, upaya pengelolaan lingkungan juga dilakukan Hutama Karya melalui pendekatan teknologi yang mengikuti perkembangan ilmu dan sesuai dengan sifat dampak yang timbul akibat pembangunan jalan tol di masing-masing ruas JTTS. Pendekatan ini diharapkan mampu mencegah, meminimalisir, dan memperbaiki kerusakan serta menanggulangi pemborosan sumber daya alam.
Hadirnya pembangunan JTTS dinilai mampu membuka lapangan pekerjaan dan peluang usaha bagi masyarakat di sekitar pembangunan tol. Hutama Karya juga telah melakukan berbagai kajian terhadap munculnya peluang tersebut seperti halnya pada pembangunan jalan tol di ruas Pekanbaru – Bangkinang. “Data pada tahun 2019 yang bersumber dari Kabupaten Kampar menunjukan bahwa tingkat pengangguran di Kabupaten Kampar yakni 5,93%. Dengan adanya pembangunan Tol Pekanbaru – Pangkalan, peluang kesempatan kerja menjadi terbuka bagi masyarakat sekitar sehingga mengurangi jumlah pengangguran di Kabupaten tersebut,” jelas Koentjoro.
Salah satu ruas pada JTTS yakni Tol Pekanbaru - Pangkalan juga diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga penduduk terutama yang berusia produktif. Untuk itu perlu diberikan peluang berusaha pada proyek pembangunan ini, misalnya membuka warung makan, pertokoan, menjadi bagian dari sub-kontraktor sehingga dapat meningkatkan pendapatan penduduk secara ekonomi.
Koentjoro menuturkan bahwa Hutama Karya melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) juga melakukan penanaman pakan gajah di sekitar area hutan PT Kojo seluas lima hektar yang berada di sekitar JTTS Ruas Permai demi memastikan ketersedian pakan untuk gajah yang berada di sekitarnya. Tak hanya penanaman pohon untuk pakan gajah, Hutama Karya selaku pengelola JTTS juga secara rutin melakukan kegiatan penanaman pohon di seluruh ruas tol dan rest area yang dikelola pada setiap peringatan yang berhubungan dengan lingkungan.
“Salah satunya yakni pada hari Selasa (10/8) lalu, secara serentak dilakukan penanaman pohon di seluruh ruas tol operasi dalam rangka Hari Konservasi Alam Nasional. Pohon yang ditanam di sekitar jalan tol tersebut juga berfungsi menyerap air yang dapat menjadi pencegah banjir ataupun longsor. Kegiatan penanaman pohon tersebut juga sebelumnya telah dilakukan pada Hari Keanekaragaman Hayati, Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia dan Hari Populasi Dunia,” jelas Koentjoro.
Selain itu, dari sisi pemeliharaan, Hutama Karya juga selalu memperhatikan keselarasan lingkungan yang ada, salah satunya dengan dengan mengidentifikasi daerah timbunan, sungai sungai yang ada di sekitar ruas dan struktur tanah untuk mengantisipasi terjadinya longsor ataupun banjir. Hutama Karya juga telah membuat penampang saluran seperti Box Culvert. Box Culvert merupakan salah satu jenis beton precast yang sering digunakan pada konstruksi saluran air yang biasanya berfungsi sebagai saluran air atau drainase. Pelebaran dan pemeliharaan penampang saluran tersebut juga secara rutin dilakukan agar mengantisipasi terjadinya banjir di jalan tol. Hutama Karya juga telah mempersiapkan tim rescue dan pompa portable/submersible apabila terjadinya banjir di jalan tol yang dikelola.
Perusahaan juga berperan dalam pengendalian banjir daerah sekitar dimana pada bulan Desember 2020 lalu, Hutama Karya selaku pengelola JTTS Ruas Medan – Binjai ikut turut serta memberikan bantuan dengan mengevakuasi korban serta menjadikan jalan tol tersebut sebagai jalan alternatif seluruh masyarakat yang terkena banjir besar yang melanda daerah Deli Serdang yang berada di sekitar JTTS Ruas Medan – Binjai dengan tetap dilakukan pengawalan dan pengamanan terhadap seluruh kendaraan yang dialihkan ke JTTS Ruas Medan – Binjai dengan bantuan pihak kepolisian daerah setempat.
Meningkatkan Roda Ekonomi Sekitar
Meskipun harus menggunakan beberapa lahan persawahan untuk pembangunan JTTS, kehadiran jalan tol ini memberikan efek yang lebih besar dan berkelanjutan untuk berbagai golongan masyarakat. Dari mulai mempercepat logistik dan distribusi, dan juga meningkatkan kualitas hasil panen dengan lebih cepatnya pendistribusian hasil panen tersebut sampai ke pedagang, kualitas panen yang dikirimkan pun masih dalam keadaan baik dan fresh.
Gubernur Provinsi Lampung, Arinal Djunaidi yang diwawancarai pada saat HUT RI 2020 lalu mengatakan bahwa sektor transportasi sangat berkaitan erat dengan kelancaran logistik dikarenakan 90% arus barang berada di sektor jalan, dengan dibukanya jalan tol, arus barang dari pusat-pusat industri menjadi semakin cepat dan lancar. “Sebagian produk-produk pertanian sangat bergantung dengan waktu, kalau ia terlalu lama di perjalanan, akan mengurangi kualitasnya atau bahkan menjadi busuk sehingga tidak bernilai sama sekali. Setelah adanya JTTS, petani akan memiliki jaminan waktu (time assurance) atas pengiriman hasil pertanian dengan kualitas sesuai yang diharapkan,” tutur Arinal Djunaidi, Gubernur Provinsi Lampung.
Selain itu, Anna, salah satu pedagang di Rest Area Bakauheni – Terbanggi Besar juga merasakan adanya manfaat jalan tol ini, “Manfaatnya alhamdulillah sih, dengan usaha ini (berjualan di Rest Area) ekonomi jadi bertambah,” ujar Anna, Pedagang Rest Area Bakauheni – Terbanggi Besar. Sebagai tambahan informasi, Hutama Karya memiliki sistem penyediaan minimal 30% lahan khusus untuk UMKM lokal dengan harga sewa yang jauh lebih rendah dari tenant komersial agar masyarakat mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan usaha nya.
Hingga saat ini, Hutama Karya telah membangun Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) sepanjang ±1.065 Kilometer dengan 534 Kilometer ruas konstruksi dan 531 ruas operasi. Adapun ruas yang telah beroperasi secara penuh yakni Tol Bakauheni – Terbanggi Besar (141 Kilometer), Tol Terbanggi Besar – Pematang Panggang – Kayu Agung (189 Kilometer), Tol Palembang – Indralaya (22 Kilometer), Tol Medan Binjai (17 Kilometer), Tol Pekanbaru – Dumai (132 Kilometer), Tol Sigli – Banda Aceh seksi 3 Jantho – Indrapuri (16 Kilometer) dan seksi 4 Indrapuri – Blang Bintang (14 Kilometer).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Editor: Redaksi
Terkini
Kamis, 4 Juni 2026 | 21:30 WIB
Kamis, 4 Juni 2026 | 20:30 WIB
Kamis, 4 Juni 2026 | 18:00 WIB
Kamis, 4 Juni 2026 | 16:30 WIB
Kamis, 4 Juni 2026 | 15:00 WIB
Kamis, 4 Juni 2026 | 14:30 WIB
Kamis, 4 Juni 2026 | 13:30 WIB
Kamis, 4 Juni 2026 | 13:00 WIB
Kamis, 4 Juni 2026 | 12:45 WIB
Kamis, 4 Juni 2026 | 09:30 WIB
Kamis, 4 Juni 2026 | 08:45 WIB
Kamis, 4 Juni 2026 | 08:00 WIB
Kamis, 4 Juni 2026 | 07:45 WIB
Kamis, 4 Juni 2026 | 07:30 WIB
Kamis, 4 Juni 2026 | 06:45 WIB
Kamis, 4 Juni 2026 | 06:30 WIB
Kamis, 4 Juni 2026 | 06:00 WIB
Rabu, 3 Juni 2026 | 21:30 WIB
Rabu, 3 Juni 2026 | 20:30 WIB
Rabu, 3 Juni 2026 | 19:30 WIB