Dalam rangka pencapaian target nol emisi karbon pada tahun 2020, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebagai salah satu BUMN di bidang energi menunjukkan komitmennya untuk mendukung program tersebut. Di samping Energi Baru dan Terbarukan (EBT), PLN juga akan terus mengoptimalkan pemanfaatan teknologi baru di sektor kelistrikan untuk mencapai target Net Zero Emission tersebut.
Evy Haryadi selaku Direktur Perencanaan Korporat PT PLN menyampaikan bahwa dari sejumlah alternatif teknologi yang saat ini terus dipelajari oleh PLN, pemanfaatan teknologi penangkapan, pemanfaatan, dan penyimpanan karbon (carbon capture, utilization, and storage / CCUS) bisa menjadi alternatif inovasi yang berpeluang untuk dikembangkan.
Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS) ini dinilai sebagai teknologi alternatif paling terjamin kesediaannya dan paling aman dampak bagi lingkungannya. Potensi pemanfaatan CCUS juga dapat berjalan beriringan dengan pengembangan sumber EBT (Energi Baru dan Terbarukan).
"Secara umum, CCUS dapat mereduksi karbon sebesar 90 persen dari pembangkit berbahan bakar fosil. Sementara 10 persen sisanya harus kita penuhi dengan menggunakan teknologi EBT lain demi mencapai target Net Zero Emission 2060," kata Haryadi dalam "Role of CCUS in Low Carbon Development in ASEAN" yang digelar secara daring, Jum'at (13/08/2021).
Penerapan teknologi CCUS juga masih perlu dikaji lebih dalam lagi, terutama dari sisi investasi. Namun, investasi yang dibutuhkan diperkirakan masih memungkinkan untuk diterapkan pada pembangkit PLN yang masih layak beroperasi.
"Karena PLN ingin menghadirkan listrik yang dapat dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia, pembangkit dengan CCUS masih kita pelajari. Seiring dengan semakin murahnya teknologi, maka opsi teknologi ini bisa menjadi pilihan," ujar Haryadi.
Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan oleh Adam Baylin-Stern, CCUS Expert dari International Energy Agency, bahwa optimistis teknologi CCUS ini akan memainkan peran penting dalam mendukung transisi energi bersih di Asia Tenggara. CCUS yang dipercaya dapat mengurangi emisi karbon juga dianggap dapat mendukung peluang ekonomi baru yang terkait dengan produksi hidrogen dan amonia.
Investasi masa depan pengembangan CCUS akan bergantung pada pembentukan kerangka hukum dan peraturan, serta insentif kebijakan dari pemerintah. "Upaya yang lebih tinggi diperlukan untuk mengidentifikasi dan mengembangkan sumber daya penyimpanan CO2 di Asia Tenggara, baik di dalam maupun di lepas pantai. Tentunya disertai dengan peran penting industri keuangan internasional sebagai sumber pendanaan," jelasnya.
Selain itu, disampaikan juga oleh Juho Lipponen selaku Coordinator Clean Energy Ministerial CCUS, meskipun teknologi CCUS menggunakan karbon sebagai sumber energi, tapi bukan berarti harus memproduksi karbon yang lebih banyak untuk memastikan suplainya. Pemanfaatan CCUS dalam pembangkit listrik memastikan karbon ditangkap untuk digunakan kembali sebelum masuk ke atmosfer.
"CCUS juga dapat menyerap kembali karbon yang telah masuk ke atmosfer, jadi teknologi ini melengkapi pembangkit EBT lainnya, tidak saling bertentangan," ungkap Lipponen.
PT PLN juga perlu untuk terus menggenjot pembangkit yang bersumber dari Energi Baru dan Terbarukan (EBT) untuk mencapai target bauran energi dan Net Zero Emission. Sebagai informasi, dari total kapasitas di Indonesia sekitar 63 GW pada tahun 2020, capaian EBT sudah mencapai 7,9 GB atau sekitar 13,7 persen.
Pada tahun 2030 mendatang, PLN akan mulai mempensiunkan generasi pertama Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang subcritical. Langkah tersebut sebagai langkah awal untuk digantikannya seluruh PLTU menjadi pembangkit berbasis EBT di tahun 2060 kelak. Selain itu, beberapa pembangkit yang sudah berjalan juga akan dikonversi dengan menggunakan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan, seperti implementasi program co-firing.
PLN terus melakukan strategi lainnya untuk mencapai Net Zero Emission. Beberapa langkah yang dilakukan antara lain pengkajian ulang teknologi CCUS, memasifkan penggunaan kendaraan listrik, hingga mengkonversi pembangkit listrik primer tenaga diesel dan batu bara dengan pembangkit Energi Baru dan Terbarukan (EBT) secara bertahap.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Editor: Redaksi
Terkini
Kamis, 4 Juni 2026 | 21:30 WIB
Kamis, 4 Juni 2026 | 20:30 WIB
Kamis, 4 Juni 2026 | 18:00 WIB
Kamis, 4 Juni 2026 | 16:30 WIB
Kamis, 4 Juni 2026 | 15:00 WIB
Kamis, 4 Juni 2026 | 14:30 WIB
Kamis, 4 Juni 2026 | 13:30 WIB
Kamis, 4 Juni 2026 | 13:00 WIB
Kamis, 4 Juni 2026 | 12:45 WIB
Kamis, 4 Juni 2026 | 09:30 WIB
Kamis, 4 Juni 2026 | 08:45 WIB
Kamis, 4 Juni 2026 | 08:00 WIB
Kamis, 4 Juni 2026 | 07:45 WIB
Kamis, 4 Juni 2026 | 07:30 WIB
Kamis, 4 Juni 2026 | 06:45 WIB
Kamis, 4 Juni 2026 | 06:30 WIB
Kamis, 4 Juni 2026 | 06:00 WIB
Rabu, 3 Juni 2026 | 21:30 WIB
Rabu, 3 Juni 2026 | 20:30 WIB
Rabu, 3 Juni 2026 | 19:30 WIB