Kabar BUMN - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) atau BRI dinilai memiliki daya tarik bagi investor global karena berkontribusi besar dalam penerapan prinsip ESG (Environmental, Social, dan Governance) untuk tumbuh secara berkelanjutan. Penerapan ESG di BRI ini diyakini dapat menjadi penggerak kapitalisasi pasar perusahaan menjadi Rp1.000 triliun pada 2025.
Wakil Menteri BUMN II, Kartika Wirjoatmodjo, mengungkapkan secara nilai ekonomis BRI menjadi bank yang sangat unik karena menjadikan segmen UMKM sebagai kekuatan bisnisnya termasuk usaha Ultra Mikro (UMi).
BRI terus mengoptimalkan pangsa pasar UMKM di Indonesia sebagai komitmen Memberi Makna Indonesia. Di samping itu, penerapan prinsip ESG di BRI juga sejalan dengan ekosistem keuangan berkelanjutan dan inklusivitas yang diusung dalam Presidensi G20 Indonesia tahun 2022.
Menurut data Kementerian Koperasi dan UKM RI pada 2019, 99,99% atau 65,46 juta pelaku usaha di Indonesia merupakan UMKM. Dampak luas UMKM pun sangat kuat, terlihat dari perolehan tenaga kerja yang menembus 119,5 juta tenaga kerja atau setara 96,92% dari total tenaga kerja Indonesia.
Di sisi lain, kata Kartika, saat ini banyak investor global yang melihat dan mempertimbangkan penerapan aspek ESG ketika berinvestasi. Oleh karena itu, pihaknya memastikan dalam berbagai program akan selalu menempatkan ESG sebagai salah satu key selling factor dan key operational factor.
“Kita sedang melakukan kajian secara menyeluruh di berbagai aspek operasi BRI bagaimana ESG bisa diadopsi secara menyeluruh baik dari sisi kredit, operasional maupun sosial. Saat ini kapitalisasi pasar BRI mencapai Rp670 triliun dan kita mempunyai target dalam beberapa tahun ke depan insyaallah kapitalisasi pasar bisa mendekati Rp1.000 triliun,” ujar Kartika.
Kartika melihat BRI memiliki potensi besar menjadi leading global bank dalam implementasi ESG, khususnya mengenai social empowerment. Kemampuan BRI dalam memberdayakan sektor UMKM dan Ultra Mikro praktis menjadi nuansa baru yang dipamerkan pada investor global.
Terlebih, lanjut Kartika, social empowerment bisa ditonjolkan BRI berkat inisiatifnya memimpin Holding Ultra Mikro bersama PT Permodalan Nasional Madani (PNM) dan PT Pegadaian. Konsolidasi PNM dan Pegadaian dipercaya Tiko memiliki keterlibatan terhadap social empowerment di sektor ultra mikro.
Holding Ultra Mikro akan terus mempertegas komitmennya untuk melayani 30 juta pelaku usaha ultra mikro yang hingga kini belum tersentuh layanan keuangan formal. Lebih la, Holding Ultra Mikro diharapkan dapat menjadi lembaga keuangan bagi seluruh pelaku usaha ultra mikro yang jumlahnya mencapai 45 juta.
Di sisi lain, langkah strategis tersebut bukan sekadar upaya bisnis, melainkan social empowerment dengan memperkuat ekosistem UMi yang diharapkan dapat menopang ekonomi nasional melalui pelaku ekonomi akar rumput yang lebih berdaya.
“Kami di Kementerian BUMN terus melakukan transformasi dan melakukan inovasi bisnis modal tentunya diharapkan ini bisa memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat. Dan juga bisa memberikan nilai kepada stakeholders secara sustainable,” ujar Kartika.
Terkait ESG, Direktur Utama BRI, Sunarso, mengatakan bahwa perseroan sudah mempersiapkan unit khusus yang fokus pada pengelolaan prinsip-prinsip untuk menjaga keberlangsungan bisnis, lingkungan, dan kehidupan sosial tersebut.
Unit tersebut ditempatkan perseroan di bawah Direktur Kepatuhan. Sunarso pun menegaskan, soal penerapan prinsip ESG pihaknya masuk kategori penggerak pertama. Kedepan, BRI Group optimis pada penerapan ESG dan bakal menjadi menjadi first runner bank dengan implementasi ESG di Asia Tenggara.
Sebagai first mover on sustainable finance di Indonesia, Sunarso menyebutkan 65,5% dari total kredit BRI yang setara dengan Rp617,8 triliun disalurkan kepada aktivitas bisnis yang berkelanjutan (sustainable business activities).
“Dalam penerapan prinsip ESG ini BRI memiliki visi tidak hanya yang memulai, tapi juga yang terdepan menjadi bank yang paling concern dalam mengimplementasikannya di Indonesia. Berikutnya lagi kami ingin yang terdepan di Asia Pasifik, atau setidaknya di Asia Tenggara,” tutup Sunarso.