Kabar BUMN - Lombok memiliki tradisi unik yang masih lestari hingga saat ini, yakni Lebaran Topat. Tradisi memiliki makna toleransi dan melambangkan rasa syukur bagi masyarakat Lombok, khususnya suku Sasak. Seperti apa tradisi ini berlangsung?
Seperti yang kita tahu, Lombok tak hanya terkenal akan pesona keindahan alam saja. Lombok juga dikenal akan budaya dan tradisi yang masih terjaga hingga saat ini. Salah satu tradisi tersebut bisa kita lihat saat menjelang Hari Raya Idulfitri di Lombok.
Bila Anda berencana liburan atau mudik ke Lombok, Anda akan menemukan tradisi Lebaran Topat yang dilaksanakan pada hari ke-6 setelah Idulfitri, atau setelah melaksanakan puasa sunnah syawal. Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk syukur setelah mampu menyelesaikan puasa sunnah syawal.
Kata "topat" sendiri merupakan sebutan masyarakat Lombok untuk ketupat. Makanan ini bukan hanya menu wajib saat lebaran. Tapi juga melambangkan kebersamaan antar masyarakat di Lombok.
Nah, berikut adalah rangkaian tradisi Lebaran Topat di Lombok yang kaya makna:
Mengunjungi makam leluhur
Salah satu agenda Lebaran Topat masyarakat Lombok adalah mengunjungi makam leluhur. Biasanya dilakukan pagi hari dengan tujuan untuk mendoakan anggota keluarga yang sudah meninggal, atau para leluhur adat dan pemuka agama; Makam Loang Baloq dan Makam Bintaro. Kedua makam tersebut dikenal sebagai makam ulama dan penyebar agama Islam di Lombok.
Uniknya, dalam tradisi ini juga dilakukan ritual mencukur rambut bayi, atau masyarakat Lombok menyebutnya dengan Ngurisan. Tradisi ini dipercaya membuat anak-anak menjadi generasi yang saleh di masa depan.
Begibung
Selain ziarah makam leluhur, tradisi lebaran di Lombok dilanjutkan dengan Begibung, atau makan bersama. Perayaan ini ditujukan untuk melambangkan syukur atas nikmat yang diberikan Tuhan. Saat berziarah, sebagian warga datang membawa perbekalan makanan. Mulai dari urap-urap, plecing kangkung, paku, pakis, pelalah ayam, dan ketupat. Kemudian masyarakat akan beramai-ramai makan bersama di halaman makam.
Mengunjungi pantai
Tradisi Lebaran Topat di Lombok dilanjutkan dengan mengunjungi pantai-pantai: Pantai Lombok Senggigi, Pantai Bintaro, atau Pantai Tanjung Karang. Warga akan membawa ratusan ketupat berbentuk gunung beserta lauk-pauk. Ketupat akan diperebutkan masyarakat maupun wisatawan yang datang, dan selanjutnya dimakan bersama. Bagi masyarakat suku Sasak, tradisi ini dapat menguatkan silaturahmi antar sesama manusia.
Perang Topat
Menjelang tenggelamnya matahari, masyarakat suku Sasak Lombok akan melanjutkan tradisi Lebaran Topat dengan Perang Topat di Pura Lingsar. Perang Topat diawali dengan mengelilingkan sesaji di dalam pura. Lalu, dilanjutkan dengan saling melempar ketupat antara umat Islam dan umat Hindu di Lombok. Tradisi Perang Topat melambangkan solidaritas antar-umat; Islam dan Hindu di Lombok, serta melambangkan rasa syukur manusia dan memohon keberkahan pada Tuhan Yang Maha Esa.