Tambang Timah Ilegal Ancam Ekosistem Satwa Endemik di Bangka Belitung

Photo Author
Amalia R, Kabar BUMN
- Selasa, 4 Maret 2025 | 13:15 WIB
Tambang timah ilegal di Bangka Belitung merusak ekosistem dan mengancam satwa endemik. Konflik manusia dan buaya meningkat, solusi diperlukan segera. (Dok. PT Timah)
Tambang timah ilegal di Bangka Belitung merusak ekosistem dan mengancam satwa endemik. Konflik manusia dan buaya meningkat, solusi diperlukan segera. (Dok. PT Timah)

Kabar BUMN – Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, yang dikenal sebagai penghasil timah terbesar di Indonesia, kini menghadapi ancaman serius akibat maraknya aktivitas penambangan timah ilegal.

Selain merusak lingkungan, aktivitas ini juga mengancam kelangsungan hidup satwa endemik dan memicu konflik antara manusia dan satwa liar, terutama buaya.

Penambangan timah ilegal dilakukan tanpa memperhatikan keberlanjutan. Penebangan hutan dan pengerukan sungai menyebabkan degradasi habitat alami bagi satwa liar.

Baca Juga: Peduli Kesehatan Masyarakat, Pertamina Hulu Sanga Sanga Salurkan Bantuan untuk Peningkatan Fasilitas Pustu

Hutan bakau serta wilayah pesisir yang menjadi tempat berkembang biak bagi buaya muara terus menyusut, sehingga buaya terpaksa mencari habitat baru yang kerap berbenturan dengan permukiman manusia.

Konflik antara buaya dan manusia di Bangka Belitung semakin meningkat, bahkan telah memakan korban jiwa, dengan puluhan kasus tercatat sepanjang 2024.

Tak hanya buaya, spesies lain seperti tarsius juga terdampak.

Baca Juga: Bijak Membeli Takjil Saat Puasa, Berikut Tips Agar Tidak Kalap Ketika Lapar Mata Melanda

Hilangnya tutupan vegetasi mengurangi sumber makanan dan tempat berlindung mereka, mengganggu rantai makanan serta keseimbangan ekosistem yang telah terbentuk secara alami.

Manajer PPS Alobi Air Jangkang, Endy R. Yusuf, menjelaskan bahwa aktivitas penambangan timah ilegal dalam skala besar telah mengganggu ekosistem satwa.

"Ekosistem satwa terganggu akibat aktivitas penambangan timah ilegal yang masif, tidak heran jika satwa endemik di Babel menjadi terganggu dan terpaksa mencari habitat baru, yang terkadang bertepatan dengan lokasi aktivitas manusia," ujarnya.

Baca Juga: Ayo Ikut Mudik Gratis Bersama PELNI, Tersedia 500 Kuota untuk Rute Sampit-Semarang, Simak Cara Daftar Serta Jadwal Keberangkatannya

Perubahan ini menciptakan ancaman bagi keselamatan masyarakat sekaligus menempatkan buaya dalam risiko dibunuh akibat tindakan defensif warga.

“Ekosistem yang terganggu akibat penambangan ilegal menyebabkan satwa-satwa ini mencari habitat baru."

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Amalia R

Tags

Artikel Terkait

Terkini