Sentuhan Nelson Ferreira, Borobudur, Prambanan, dan Sewu Hidup dalam Pendar PlatiGleam

Photo Author
Novia, Kabar BUMN
- Selasa, 26 Agustus 2025 | 13:30 WIB
Pameran Nyawiji – The Unity menghadirkan karya Nelson Ferreira, melukis Borobudur, Prambanan, dan Sewu dalam pendar cahaya PlatiGleam.
Pameran Nyawiji – The Unity menghadirkan karya Nelson Ferreira, melukis Borobudur, Prambanan, dan Sewu dalam pendar cahaya PlatiGleam.

Kabar BUMN - Tiga candi megah, Borobudur, Prambanan, dan Sewu kini tampil dengan wajah berbeda melalui sapuan cahaya di atas kanvas.

Seniman Portugal, Nelson Ferreira, membawakan seri lukisan teknik PlatiGleam dalam pameran bertajuk "Nyawiji – The Unity," menghadirkan pengalaman visual yang jarang ditemui.

Pameran dibuka InJourney Destination Management dengan Pop Up Exhibition di Lalitavistara Restaurant, Borobudur Cultural Center, Magelang, pada 24 Agustus 2025, lalu berlanjut awal September di Museum Borobudur.

 Baca Juga: Nama Agus Gratis Masuk TMII Sampai Akhir Agustus, Sudah Coba?

Lukisan-lukisan ini dikerjakan langsung dari pelataran candi pada malam hari, sehingga memancarkan nuansa spiritual, keheningan, dan aura sejarah yang berbeda dari biasanya.

Teknik PlatiGleam yang digunakan Nelson mengandalkan pigmen khusus pada latar gelap, menghasilkan refleksi cahaya yang berubah-ubah sesuai sudut pandang.

Efeknya membuat karya terasa hidup, seolah bayangan masa lalu, cahaya, dan spiritualitas menyatu dalam satu bingkai.

Baca Juga: The Meru Sanur & Bali Beach Hotel Turut Sukseskan Maybank Marathon 2025, Bali Jadi Sorotan Dunia

Bagi Nelson, melukis ketiga candi di malam hari menjadi salah satu favoritnya yang membuka pengalaman dan pandangan baru.

Melukis Candi Sewu di malam hari benar-benar membuatku menyadari hal yang berbeda. Dengan bantuan proyektor yang menghasilkan pencahayaan yang begitu dramatis, saya bisa melihat volume candi yang tidak kulihat di siang hari. Ini sungguh pengalaman yang luar biasa,” jelasnya.

Borobudur mengajarkan kebijaksanaan untuk membumi, Prambanan memancarkan hasrat menuju kemuliaan surga, sementara Sewu membawa dirinya pada kilasan masa lalu yang intens.

Baca Juga: Kuliner yang Wajib Dicicipi Saat Berkunjung ke Jeonju

Kita bukan siapa-siapa tanpa masa lalu. Apa yang kita ciptakan sekarang berhubungan dengan masa lalu. Sangat sedikit yang original.

"Sembilan puluh sembilan persen kualitas karya-karya saat ini terhubung melalui tradisi yang berjalan panjang dari masa lalu. Intinya adalah belajar dari maestro sejati dan belajarlah dari generasi pendahulu,” ujarnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Novia

Sumber: injourneydestination.id

Tags

Artikel Terkait

Terkini