Kabar BUMN - Ketergantungan terhadap luar negeri dalam pemenuhan alat utama sistem persenjataan (alutsista) dinilai sudah tidak relevan untuk dipertahankan di tengah kondisi geopolitik global yang semakin kompleks dan penuh ketidakpastian.
Direktur Utama PT PAL Indonesia, Kaharuddin Djenod, menegaskan bahwa kemandirian industri pertahanan kini menjadi kebutuhan strategis nasional.
“Industri pertahanan yang kuat adalah deterrence itu sendiri,” tegasnya saat menjadi narasumber dalam Diskusi Panel Pasis Dikreg LV Sesko TNI Tahun Anggaran 2026 di Sekolah Staf dan Komando TNI, Kamis (8/5).
Baca Juga: PT SUCOFINDO Buka Lowongan Magang di Divisi Human Capital, Mahasiswa Psikologi Wajib Simak!
Dalam forum bertajuk “Peran Strategis Industri Pertahanan dalam Menghadapi Perkembangan Situasi Geopolitik dan Geostrategis Global Saat Ini untuk Mendukung Kesiapan Pertahanan RI” tersebut, Kaharuddin menekankan bahwa industri pertahanan nasional harus bertransformasi.
Menurutnya, industri pertahanan tidak cukup hanya menjadi perakit, tetapi juga harus mampu menjadi produsen yang melahirkan inovasi dan penguasaan teknologi strategis.
Sebagai contoh, PT PAL saat ini tengah menjalankan transformasi melalui implementasi sistem digital berbasis kecerdasan buatan bernama Industri Maritim 4.0 (IM4).
Baca Juga: Bikin Makin Gerah, Hindari 5 Jenis Pakaian Ini Saat Cuaca Panas
Transformasi tersebut dinilai berhasil meningkatkan kapasitas dan kecepatan produksi sekaligus memperkuat perolehan kontrak strategis nasional.
Saat ini, PT PAL juga memasuki fase end-stage transformation sebagai bagian dari penguatan perusahaan menuju peran yang lebih besar sebagai national consolidator industri galangan kapal nasional beserta ekosistem pendukungnya.
Selain transformasi digital, PT PAL juga berhasil mengembangkan berbagai produk inovatif seperti Torpedo dan Kapal Selam Otonom (KSOT) yang seluruhnya dikembangkan oleh talenta dalam negeri.
Baca Juga: PIEP Luncurkan “We Lead, We Grow”, Program Pengembangan SDM untuk Cetak Talenta Berdaya Saing Global
Langkah tersebut menjadi fondasi penting dalam memperkuat kapasitas perusahaan agar mampu mengintegrasikan potensi industri maritim nasional, memperluas kolaborasi dengan industri pendukung, serta meningkatkan kemandirian alutsista nasional di tengah dinamika global.
“Ketika dunia melihat Indonesia mampu merancang, membangun, dan mengintegrasikan sistem senjata secara mandiri, mulai dari kapal perang hingga torpedo dan kapal selam, itu adalah pesan yang lebih kuat daripada sekadar jumlah alutsista yang kita miliki,” ujarnya.
Artikel Terkait
46 Tahun PT PAL Indonesia, Perkuat Transformasi Menuju Pusat Inovasi Maritim Terintegrasi
PT PAL Indonesia: Industri Pertahanan Maritim Bisa Jadi Motor Penggerak Ekonomi Nasional
PT PAL Indonesia Dorong Kepastian Regulasi Industri dalam Revisi UU PSDN
46 Tahun PT PAL Indonesia: Dari Galangan Nasional Menuju Kekuatan Maritim Global
PT PAL Indonesia Kembangkan Kapal Cepat Rudal 60 Meter, Perkuat Kedaulatan Maritim Nasional