Dirinya menambahkan, “Kami sangat berterima kasih kepada Bupati Banyuwangi, Ibu Ipuk Fiestiandani, yang selalu mendukung Bandara Banyuwangi hingga mampu meraih banyak penghargaan termasuk Penghargaan Subroto dan Aga Khan Award. AP II dan Pemkab Banyuwangi terus berkolaborasi dan bersinergi dalam memberikan layanan kepada masyarakat khususnya terkait transportasi udara.”
Sebelum Penghargaan Subroto 2023, Bandara Banyuwangi berhasil menyabet The Aga Khan Award for Architecture 2022, menyisihkan 463 nominasi bangunan dengan arsitektur terbaik di dunia.
Baca Juga: Kolaborasi Anak Usaha Telkom, Metranet dengan Jayantara Dukung Sukseskan PPDB 2024
Director of Engineering AP II Agus Wialdi mengatakan, bandara yang meraih Penghargaan Subroto ini mengusung konsep bangunan hijau dan ramah lingkungan.
Selain itu, gedung domestik ini juga diperkuat dengan pengelolaan energi yang baik seperti konservasi air dan penggunaan konsep skylight untuk pencahayaan.
“Konsep bangunan hijau dan ramah lingkungan membuat terminal domestik mendapat penghawaan udara secara alami, lalu di atap terminal dilakukan penanaman tanaman (green roof). Di samping itu, sumber energi juga berasal dari energi baru terbarukan melalui PLTS atap. Lalu, dilakukan juga konservasi air dan skylight untuk pencahayaan alami di siang hari,” ujar Agus Wialdi.
Plt Executive General Manager Bandara Banyuwangi, Bayuh Iswantoro menyebut konsep penghematan energi secara pasif pada bangunan diterapkan melalui dua strategi.
Strategi-strategi tersebut yaitu optimalisasi ventilasi udara alami serta pemanfaatan cahaya matahari pada ruang dalam bangunan. Adapun dinding terminal domestik dibuat dengan kisi-kisi kayu untuk penghawaan udara alami.
“Melalui optimalisasi ventilasi udara alami, area yang menggunakan pendingin udara atau AC hanya sebesar 4,5% dari total area gedung,” ujar Bayuh Iswantoro.
Baca Juga: Serikat Pekerja Pegadaian Gelar Tasyakuran HUT ke-23 dengan Tema Disruption Agility
Selain ramah lingkungan, kata dia, Terminal Domestik Bandara Banyuwangi juga menampilkan kebudayaan setempat dengan mengadopsi bentuk ikat kepala khas Suku Osing sebagai upaya mempertahankan kebudayaan khas Banyuwangi.***