trending

Mengenal Depo Sidotopo, Bengkel Kereta Api Berusia 1 Abad

Rabu, 18 Oktober 2023 | 08:30 WIB
Depo Sidotopo Surabaya (Dok. KAI)

Dalam kurun waktu 3 tahun, SS menyulap wilayah yang dulunya sawah, rawa-rawa, dan kampung di Sidotopo menjadi sebuah kawasan depo dengan luas lebih dari 80 hektar.

Baca Juga: Info Loker PT KA Properti Manajemen Bagi Lulusan Min. D3 S1, Ada Posisi Staff IT dan Supervisor IT Operation

Depo ini diklaim SS sebagai yang terbesar dan terluas yang pernah dimiliki, bahkan terbesar se-Asia.

Hal tersebut turut diperkuat oleh artikel pada Koran "Deli Courant" yang terbit pada tanggal 9 Mei 1921.

Menurut koran tersebut, depo ini mulai dipakai sejak 30 April dengan panjang 3 kilometer serta lebar 300 meter dan pembangunan masih terus berlangsung.

Dalam buku perayaan ulang tahun Staatsspoorwegen ke-50 "Gedenkboek Staatspoor-en Tramwegen" yang ditulis oleh S. A. Reitsma dijelaskan bahwa Depo Lokomotif Sidotopo telah aktif digunakan sejak tahun 1923.

J.J.G Oegema dalam bukunya dengan judul “STOOMTRACTIE OP JAVA EN SUMATRA” juga menulis bahwa Depo Sidotopo merupakan depo induk yang paling modern saat itu.

Tak tanggung-tanggung, dengan luas lebih dari 80 hektar, SS membangun komplek locomotief depot beserta remise untuk perawatan dan perbaikan lokomotif termasuk juga kereta, dan gerbong.

Baca Juga: Bawa 30 UMKM Binaan ke Trade Expo Indonesia 2023, Pertamina Bagi Ilmu Perdagangan Ekspor

Depo Sidotopo Masa Pertahanan Kemerdekaan

Tanggal 13 November 1945 setelah kemerdekaan, Stasiun Sidotopo menjadi salah satu saksi bisu pertempuran pejuang dengan melawan tentara Sekutu pada bulan Agustus-November 1945 di Kota Surabaya tepatnya di daerah sekitar Sawah Pulo.

Para pejuang yang tergabung dalam organisasi Pemuda Republik Indonesia (PRI) Utara dibawah pimpinan Kustur, memiliki pos pertahanan di sekitar Jatipurwo berdekatan dengan Stasiun Kereta Api Prince Hendrik.

Saat itu, para pejuang sempat mendapatkan perlawanan tembakan sengit hingga mendapat tekanan yang membuat para pejuang terpaksa mengalihkan pertahanannya ke Stasiun Sidotopo.

Para pejuang lalu ikut bergabung dengan para pemuda dan buruh dari kereta pi pada masa itu yang telah membuat pertahanan di Stasiun Sidotopo.

Dalam pertempuran tersebut, sebanyak 20 pejuang gugur dan dimakamkan di Jalan Sidotopo Wetan.

Halaman:

Tags

Terkini