“Pemerintah menargetkan investasi asing dan industri padat modal di KEK Gresik ini sebesar US$16 miliar atau sekitar Rp250 triliun,” kata Agung P. Guritno, Direktur Logistik PT Berkah Kawasan Manyar Sejahtera (BKMS), pengelola Kawasan Ekonomi Khusus Gresik, JIIPE.
Menurut Agung, selain menyatu dengan pelabuhan, nilai plus JIIPE lain adalah keterpaduan antar industri di kawasan ini. Agung mencontohkan PT Hailiang Nova Material Indonesia.
Pada Juni 2023, anak perusahaan Zhejiang Hailliang Co., Ltd., Cina, ini mulai membangun pabrik foil tembaga di atas lahan seluas 19,6 hektare di JIIPE.
“Perusahaan ini menjadi off-taker katoda tembaga yang diproduksi pabrik smelter Freeport,” jelasnya. Hailiang mengucurkan investasi sebesar US$860 juta (Rp13 triliun).
Baca Juga: 4 Tahun Transformasi BUMN, Subholding Pelindo Genjot Terobosan Baru untuk Indonesia Maju
Limbah baja (iron slag) dari pabrik smelter, kata Agung, juga bisa dimanfaatkan untuk pabrik beton, semen, dan pupuk.
Di JIIPE saat ini juga sudah bergabung PT Adhimix PCI Indonesia dan PT Waskita Beton Precast.
Tidak jauh dari Gresik, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. juga memiliki pabrik semen di Tuban yang nantinya juga terhubung dengan JIIPE melalui jalan tol.
Limbah baja juga bisa dimanfaatkan PT Petrokimia Gresik untuk memproduksi pupuk Silika.
Pelindo juga mengembangkan pelabuhan lain yang terintegrasi dengan kawasan industri, yakni Pelabuhan Kuala Tanjung yang terletak di Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara.
Pelabuhan ini hanya berjarak 2 km dengan Kawasan Industri Kuala Tanjung yang dikelola PT Prima Pengembangan Kawasan, anak perusahaan PT Subholding Pelindo Solusi Logistk (SPSL).
Pelabuhan Kuala Tanjung juga terhubung dengan KEK Sei Mangkei di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, melalui jalan tol dan jalur kereta api.
Pelindo, bersama PT Kereta Api Indonesia (KAI), dan PT Perkebunan Nusantara III (PTPN III) membangun jalur kereta api sepanjang 42 km.
Transportasi melalui kereta api ini akan memangkas waktu tempuh menjadi 30-40 menit.