Kabar BUMN - Bio Farma menjalin kerja sama dengan Becton Dickinson and Company (BD), perusahaan teknologi medis global, untuk menanggulangi penyakit tuberkulosis (TBC) di Indonesia.
Melalui penandatanganan nota kesepahaman (MOU), keduanya berkomitmen untuk menyediakan akses kepada solusi diagnostik TBC terbaru dari BD dan mengoptimalkan rantai pasokan untuk solusi TBC di Indonesia.
MOU ini mencerminkan dedikasi yang kuat terhadap kesehatan masyarakat dan inovasi.
Baca Juga: Peringati Hari Kesehatan Nasional, Bio Farma Gelar Program Vaksin DBD dan CerviScan
Penandatanganan nota kesepahaman ini disaksikan oleh pejabat Bio Farma, BD, Menteri Kesehatan RI, Wakil Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, dan pejabat perusahaan terkait.
Dengan lebih dari satu juta kasus setiap tahun, Indonesia menghadapi beban penyakit TBC tertinggi kedua di dunia.
Sebelum pandemi COVID-19, TBC adalah penyebab utama kematian akibat infeksi di Indonesia.
Baca Juga: Bio Farma Group Tampilkan Produk Unggulan pada Peringatan Hari Kesehatan Nasional 2023
Resistensi terhadap obat TBC, khususnya rifampisin (RIF) dan isoniazid (INH), masih menjadi rintangan serius.
Pengobatan yang tepat waktu menjadi kunci, karena tanpa identifikasi dini dan pengobatan yang efektif, risiko penyebaran dan perkembangan resistensi terhadap obat lain dapat meningkat.
BD dan Bio Farma berharap kolaborasi ini dapat meningkatkan diagnosis TBC, terutama jenis yang resisten terhadap obat.
Baca Juga: Raih Penghargaan Tertinggi, Bio Farma Bawa Pulang Platinum di Ajang ASRRAT 2023
Nikos Pavlidis, Presiden BD Diagnostic Solutions, menyatakan bahwa upaya bersama ini sesuai dengan tujuan nasional Indonesia untuk memberantas TB pada tahun 2030.
Uji BD MAX™ MDR-TB, suatu terobosan diagnostik, memungkinkan laboratorium dan dokter untuk mendeteksi bakteri penyebab TBC dan menentukan tingkat resistensi terhadap obat-obatan.