“Dalam skala global dan aspek ketenagakerjaan setidaknya terdapat 800 juta orang di dunia yang kehilangan pekerjaan karena revolusi industri 4.0. Ini merupakan tantangan digitalisasi yang dihadapi para ASN."
"Untuk itu, terdapat beberapa faktor penting masa depan yang perlu diperhatikan ASN, yaitu teknologi dan digitalisasi menjadi hal mendasar dalam tata kelola birokrasi, usia muda yang mendominasi, skema bekerja yang mulai berganti, kompetisi yang semakin ketat, dan pentingnya soft skill bagi para ASN."
"Aparatur Sipil Negara harus fokus melakukan revolusi digital dan mempu menjalan birokrasi secara profesional dan berkualitas. Maka dari itu penting pula bagi kementerian/lembaga dan TASPEN membentuk sinergi dan kolaborasi agar mewujudkan ASN Indonesia yang bahagia dan sejahtera.” tutup Rini.
Di sisi lain, Ketua Umum Dewan Pengurus Korpri Nasional Prof. DR Zudan Arif Fakhulloh, SH., MM berharap dapat terbentuk kolaborasi yang intensif antara KORPRI dan TASPEN melalui berbagai bentuk jaminan.
Diantaranya jaminan kecelakaan kerja, tabungan hari tua, hingga pembiayaan perumahan.
“TASPEN tidak pernah gagal membayar pensiun. Untuk itu, keberlanjutan TASPEN diperkuat melalui adanya pembayaran iuran dari peserta, semakin intensifnya dukungan dari pemberi kerja, hingga beragam upaya TASPEN dalam menyalurkan manfaat yang langsung dirasakan ASN. TASPEN sejak awal telah berdampak keberadaannnya kepada para ASN, tidak hanya bagi pensiunan. Jadi TASPEN dikenal para ASN dan dikenang oleh para pensiunan.” sebutnya.