Dari sisi pekerja korban yang mengalami kecelakaan tambang didominasi oleh pekerja tambang dengan pengalaman kerja kurang dari tiga tahun.
Baca Juga: Desa Binaan dan UMKM Binaan Pegadaian Go Internasional, Pamerkan Produk Unggulannya di Belanda
Data Ditjen Minerba juga memperlihatkan penyebab dasar dari kecelakaan tambang terdiri dari faktor pribadi serta pekerjaan, dimana secara pribadi masih terdapat pekerja tambang yang kurang pengetahuan bahaya pekerjaan, motivasi keliru demi mengejar target, serta faktor kelelahan kerja.
Sementara dari faktor pekerjaan, terjadi kualitas pengawasan yang kurang, prosedur yang belum memadai, pendidikan dan pelatihan kurang memadai, hingga bahaya pekerjaan yang belum teridentifikasi.
Teja menerangkan, atas dasar data sampling di seluruh site project Divisi Tambang Umum bahwa terdapat 50% karyawan site project dengan masa kerja kurang dari tiga tahun.
Oleh sebab itu, penting sekali untuk dilakukan peningkatan intensitas pelatihan dan sosialisasi prosedur, pengoptimalan sesi konseling, hingga menyediakan media/fasilitas terbuka untuk memudahkan proses komunikasi umpan balik dari karyawan kepada atasan atas kondisi atau tindakan tidak aman yang terjadi.
“Mengingat trend perubahan budaya online yang banyak mempengaruhi kepada pola hidup karyawan maka setiap site project harus me-review kembali fatigue manajemen serta risk register."
"Prosedur dan IK perlu disosialisasikan dengan pendekatan baru melalui visualisasi yang mudah dipahami, diingat dan diakses dengan pengoptimalan google drive, disisi lain untuk menaikkan tingkat pemahaman maka harus sering dilakukan pelaksanaan praktek langsung atau simulasi,” pungkas Teja.***