Pembimas Hindu DI Yogyakarta Didik Widya Putra menerangkan bahwa Hari Raya Galungan yang menurut lontar Purana Bali Dwipa pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat (Budha Kliwon Dungulan) di tahun 882 Masehi atau tahun Saka 804 ini, dimaknai sebagai hari kemenangan bagi Dharma (Kebaikan) melawan aDharma (Keburukan).
Hari di mana umat merayakannya dengan menghaturkan puja dan puji syukur kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa.
Baca Juga: Hadiri Mobile World Congres 2024, PLN Icon Plus Uraikan Transformasi Digital di Tubuh PLN
“Inti dari Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang. Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah wujud dharma dalam diri. Sedangkan segala kekacauan pikiran itu (byaparaning idep) adalah wujud adharma. Dari konsepsi lontar Sunarigama inilah didapatkan kesimpulan bahwa hakikat Galungan adalah merayakan menangnya dharma melawan adharma,” pungkasnya.***