Kabar BUMN - PT PLN Nusantara Power (PLN NP) menargetkan peningkatan upaya penurunan emisi melalui perdagangan karbon pada tahun 2024 dua kali lipat dibandingkan tahun 2023.
Direktur Management Human Capital and Administrasi PLN NP, Karyawan Aji mengatakan, tahun ini PLN NP mematok target emisi setara 2 juta ton CO2 yang diperdagangkan.
Untuk mencapai target tersebut, sedikitnya akan ada 13 pembangkit listrik yang digunakan PLN NP dalam perdagangan karbon tahun 2024.
Menurut Aji, perusahaan sangat mendorong terjadinya transisi energi karena dengan perdagangan karbon maka inisiatif net zero lebih terpacu.
Dalam perdagangan karbon ini, Aji menguraikan, perusahaan yang membangun pembangkit berbasis EBT bisa membuat sertifikat karbon.
Sementara perusahaan-perusahaan yang mengurangi emisi bisa membuat sertifikasi pengurangan emisi.
Dari emisi yang dapat diperjualbelikan tersebut akan mendorong adanya tambahan (revenue) lain sehingga secara keekonomian perusahaan yang membangun renewable (power plant) akan menjadi berkurang bebannya.
“Sebaliknya perusahaan-perusahaan yang mengoperasikan CO2 bebannya akan bertambah," jelas Aji.
Tahun lalu PLN NP jadi salah satu pihak yang sangat agresif dalam pembukaan perdagangan karbon atau Bursa Karbon Indonesia (IDXCarbon).
Baca Juga: Sejumlah Langkah Telah Dilakukan, PLN Nusantara Power Mantap Kejar 100 Persen Digital Power Plant
Saat peluncuran IDXCarbon di September 2023, PLN NP menjadi trader terbesar di bursa karbon Indonesia dengan membuka perdagangan setara hampir 1 juta ton CO2.
IDXCarbon juga terhubung dengan Sistem Registri Nasional Pengendalian Perubahan Iklim (SRN-PPI) milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), administrasi dan perpindahan unit karbon menjadi lebih mudah dan menghindari double counting.