trending

Pameran Foto Jurnalistik PANDEMONIUM dari ANTARA, Bentuk Dukungan bagi Pejuang Pandemi Covid-19

Rabu, 6 Oktober 2021 | 15:59 WIB
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin membuka pameran foto jurnalistik PANDEMONIUM pada 30 September 2021. Pameran ini menampilkan hasil reportase pewarta foto ANTARA dari seluruh Indonesia dalam meliput pandemi Covid-19. Dimulai dari awal pandemi masuk Indonesia pada sekitar Maret 2020, hingga berkembang sampai varian Delta pada Agustus 2021, hasil foto para fotografer ANTARA ada di sini. Pameran jurnalistik PANDEMONIUM ini menghadirkan 120 hasil jepretan 53 pewarta foto.

Dibuka Langsung oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin

Dalam sambutannya, Menteri Kesehatan mengungkapkan rasa terima kasihnya pada ANTARA yang sudah mendokumentasikan pandemi Covid-19 di Indonesia ini. Panjang lebar Budi Gunadi sadikin membahas sejarah pandemi, hingga terjadinya Covid-19 yang melanda dunia. "(Lewat pandemi covid-19) kita diajarin agar kontak fisiknya lebih benar. Semua pandemi itu ada pesannya, saya percaya," ungkapnya. Turunnya angka kasus positif, pesan Menteri Kesehatan, jangan membuat semua orang jadi tidak waspada. Jika rentang waktu antara SARS-COV1 ke SARS-COV2 terjadi 17 tahun, bukan tidak mungkin pandemi atau virus selanjutnya menyerang lebih cepat. "Belajar dari pengalaman, adalah tugas kita untuk memastikan anak kita, cucu kita, anak dari cucu kita, generations after our generation itu jauh lebih siap. Jangan seperti kita sekarang menghadapi pandemi ini," tuturnya. Menteri Kesehatan juga mengungkapkan bahwa apa yang dilakukan ANTARA ini bukan sekadar mendokumentasikan, tapi juga menorehkan tinta emas di buku sejarah kehidupan kesehatan Indonesia. Ia berharap tinta emas ini didokumentasikan dengan baik. "Juga jangan lupa untuk merefleksikan ke belakang, bisa digunakan sebagai arahan ke depan, dan memisahkan lembaran-lembaran baru untuk diteruskan oleh generasi selanjutnya. Insya Allah (generasi selanjutnya) bisa jauh lebih baik dari apa yang kita isi sekarang ini," paparnya.

Bentuk Dukungan untuk Pejuang Pandemi Covid-19

Di kesempatan yang sama, ketua panitia pameran foto jurnalistik PANDEMONIUM, Andika Wahyu mengungkapkan bahwa mereka melihat pandemi ini sebagai hal yang sangat besar. Karenanya mereka merasa harus melakukan atau membuat sesuatu. "(Pameran foto PANDEMONIUM) sebagai sarana kita menyiapkan informasi yang benar tentang covid, untuk melawan hoax dan sebagainya," ungkapnya. Gambar-gambar yang bisa disaksikan dalam pameran ini merupakan hasil jepretan pewarta foto ANTARA. Semua itu yang akan menggambarkan situasi Covid-19 di Indonesia, termasuk tentang bagaimana penangannya. Dari ribuan foto, setelah melewati proses penyaringan, ada 120 terpilih yang dianggap mewakili. "(Pameran ini digelar sebagai dukungan), terutama bagaimana kita menghargai para nakes yang berjuang di garda terdepan, keluarga yang harus kehilangan anggota keluarganya, termasuk juga warga Indonesia yang bisa tetap kuat di tengah pandemi seperti ini, dan bagaimana bisa menghadapi kedepannya," jelasnya.

Tak Berhenti di Pameran Foto Saja

Seperti pameran pada umumnya, dari ribuan karya yang masuk tentu dikurasi untuk ditampilkan yang dianggap layak. Sebagai kurator, Ismad mengaku pusing memilihnya, karena semua foto dianggapnya bagus. "Tapi mau nggak mau kita harus memilih mana yang kira-kira paling sesuai (dengan tema)," ujarnya. Tidak semua foto bisa diakomodir lolos dan masuk dalam pameran foto jurnalistik PANDEMONIUM ini. Ismad mengaku harus 'kejam' dalam memilih, demi sebuah benang merah yang harus disampaikan tentang pandemi Covid-19 ini. Karya foto yang dipamerkan ini sebenarnya hanya sebagian dari yang terpilih. Menurut Ismad, goals dari event ini adalah menerbitkan sebuah buku. Foto yang dipamerkan ini hanya setengah dari karya yang akan dibukukan. Ismad berharap buku ini bisa terealisasi secepatnya. "Karena nggak hanya foto, tapi di situ juga banyak testimoni. Kemudian ada penjelasan ahli soal covid-19," ungkapnya.

Kisah Pewarta Foto di tengah Pandemi Covid-19

Ada banyak hal yang harus diabadikan di tengah pandemi ini. Selain agar bisa jadi bahan belajar untuk generasi selanjutnya, juga untuk menorehkan sejarah, sebagai pengingat bahwa Covid-19 pernah menyerang dunia, termasuk di Indonesia. Pewarta foto ANTARA, Sigid Kurniawan yang karyanya lolos kurasi menceritakan pengalamannya bekerja di tengah pandemi. Mendapat kesempatan meliput Olimpiade Tokyo 2020, ia merasa ini adalah kesempatan spesial. "Karena waktunya saat pandemi covid-19," ujarnya. Jepang memberlakukan protokol kesehatan yang sangat ketat. Sebelum keberangkatan, Sigid mengaku harus menjalani 14 hari karantina terlebih dulu. Tak hanya itu, ia juga harus melewati 7 kali PCR di rumah sakit yang sudah ditentukan oleh pemerintah kesehatan Jepang. "Hasilnya harus negatif semua. Ketika salah satunya ada yang positif, saya nggak bisa berangkat ke Jepang," ungkapnya. Setelah sampai di Jepang, Sigid masih harus menjalani isolasi selama 3 hari. Masih belum cukup, PCR pun dilakukan setiap hari selama mereka berada di jepang. Total ada 18 hari Sigid berada di Jepang untuk meliput event besar ini. Banyak hal yang bisa diabadikan sebagai pengingat dari pandemi Covid-19 ini. Seperti harapan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, semoga hasil foto ini bisa menjadi bahan refleksi dan pembelajaran untuk kedepannya.

Terkini