trending

Fokus Pemulihan Ekonomi, BRI Siap Atasi 4 Tantangan Utama

Selasa, 3 Agustus 2021 | 16:21 WIB

Meskipun pandemi belum kunjung berakhir, tahun ini diyakini menjadi waktu tepat untuk pemulihan ekonomi atas dampak pandemi Covid-19. Pemerintah mendorong pelaksanaan vaksinasi kepada masyarakat untuk meningkatkan imunitas agar aktivitas perekonomian bisa berangsur pulih kembali. BRI sebagai salah satu anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) siap menghadapi empat tantangan utama untuk ikut mendorong laju pertumbuhan ekonomi nasional. Sekretaris Himbara yang juga menjabat sebagai Direktur Kepatuhan BRI, Ahmad Solichin Lutfiyanto, mengatakan bahwa BRI siap menghadapi empat tantangan utama di periode pemulihan ekonomi ini. Tantangan pertama adalah menjaga kualitas aset.  Menurut Solichin, banyak kredit yang jatuh tempo di tahun ini, setelah direstrukturisasi pada 2020. Berkaca dari kinerja restrukturisasi yang dilakukan BRI, probabilitas kredit yang bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) kecil sekali. Persentasenya masih di bawah 5%. Adapun realisasi restrukturisasi kredit Himbara atas debitur terdampak pandemi Covid-19 sampai periode Maret 2021 sebanyak 3,43 juta debitur dengan total outstanding Rp405,3 triliun. Dengan total aset mencapai Rp3.840,5 triliun dan penyaluran kredit sebesar Rp2.469,6 triliun, Himbara menjadi penggerak pertumbuhan sektor perbankan nasional. “Tapi tetap kami di Himbara gak boleh lengah. Kami tetap monitor kualitas NPL maupun loan at risk (LAR),” ujarnya dalam virtual seminar bertajuk Program Pemulihan Ekonomi Nasional yang mengangkat tema “Efisiensi dan Efektifitas pada Stabilitas Sistem Keuangan”, pada hari Kamis (1/7). Tantangan kedua menurutnya adalah loan demand. Hal ini menjadi tantangan tersendiri, karena jika kredit tidak tumbuh, maka akan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi nasional. Di sisi lain, Himbara tidak bisa secara langsung menciptakan permintaan terhadap kredit. Menurutnya, memang ada upaya dari regulator terkait dengan penurunan suku bunga untuk mengatrol permintaan kredit. Namun, melihat kondisi di lapangan ternyata permintaan terhadap kredit tidak hanya digerakkan oleh penurunan suku bunga. Kredit bertumbuh juga dipengaruhi adanya alokasi belanja konsumsi dari masyarakat. Oleh karena itu, bantuan langsung dari pemerintah cukup mendorong permintaan kredit. “Himbara fokus di bansos baik PKH (Program Keluarga Harapan) maupun sembako. Dari penyaluran hingga proses pencairan, Himbara telah melaksanakan tugas dengan baik. Dari pemanfaatan sudah 97,5% untuk sembako dan 99% untuk PKH. Himbara sudah berusaha melaksanakan tugas terkait bansos dengan baik. Ini sangat penting membantu create demand. Dan penting untuk mendukung peningkatan kredit atau loan demand,” ucapnya.  Tantangan ketiga adalah likuiditas. Terkait hal ini, biaya pencadangan harus dijaga dengan baik. Karena menurutnya, semua bank harus meningkatkan manajemen risiko, salah satunya dengan menambah pencadangan sehingga dapat meningkatkan tekanan pada margin. Tantangan lainnya datang dari Amerika Serikat yang akan melakukan tapering off. Tapering off merupakan pengurangan stimulus berupa pembelian surat berharga. “Jadi tantangannya apabila di US melakukan tapering off, likuiditas di tahun 2021 mungkin akan menjadi isu. Namun dari Bank Indonesia dan regulator lainnya akan ada action kalau betul-betul AS melakukan tapering off”, terangnya. Adapun tantangan yang terakhir adalah perubahan perilaku nasabah terkait perpindahan ke transaksi digital. Dengan terbatasnya interaksi langsung karena pandemi, perilaku nasabah menurutnya akan dominan ke digital. “Tadinya nasabah ke cabang, sekarang ke mobile, sehingga peran dari open banking era itu akan semakin signifikan,” imbuhnya.

Terkini