trending

Tingkatkan Ketahanan Energi Nasional, Indonesia Luncurkan Indonesia Battery Corporation

Sabtu, 17 April 2021 | 00:07 WIB

Dalam upaya meningkatkan daya saing BUMN dan meningkatkan lapangan kerja baru, serta memperkuat ketahanan energi nasional, Kementrian BUMN yang dipimpin langsung oleh menteri BUMN Erick Thohir, resmi meluncurkan IBC atau Indonesia Battery Corporation sebagai pengelola ekosistem industri baterai kendaraan bermotor listrik (Electric Vehicle Battery) yang terintegrasi dari hulu ke hilir.  Rapat perjanjian penandatanganan pemegang saham sendiri dilangsungkan pada 16 Maret 2021 lalu oleh empat perusahaan BUMN sektor pertambangan dan energi, yakni MIND ID, PT. ANTAM Tbk, PT. Pertamina (Persero), dan PT. PLN (persero). Masing-masing perusahaan BUMN tersebut memegang 25% saham dalam Indonesia Battery Corporation.  Sedangkan konferensi pers pembentukan IBC sendiri dilangsungkan pada Jumat (26/3). Dalam konferensi pers tersebut, Menteri BUMN Erick Thohir menyebutkan bahwa pembentukan IBC merupakan strategi pemerintah, khususnya kementerian BUMN, untuk memaksimalkan potensi sumber daya mineral di Indonesia. khususnya Kementerian BUMN untuk memaksimalkan potensi sumber daya mineral di Indonesia. 
-
“Kita ingin menciptakan nilai tambah ekonomi dalam industri pertambangan dan energi, terutama nikel yang menjadi bahan utama baterai EV, mengembangkan ekosistem industri kendaraan listrik, dan memberikan kontribusi terhadap tujuan pembangunan berkelanjutan. Selain itu, investasi skala besar seperti ini akan membuka banyak lapangan kerja, khususnya untuk generasi muda kita, ” ujar Erick Thohir.  Sejalan dengan tujuan utama IBC untuk mengelola ekosistem industri baterai kendaraan bermotor listrik, perusahaan juga terbuka untuk menerima kerjasama dengan pihak ketiga yang menguasai teknologi sekaligus menguasai pasar global untuk membentuk entitas patungan di sepanjang rantai nilai industri EV battery, mulai dari pengolahan nikel, material prekursor dan katoda, hingga battery cell, battery pack, energy storage system (ESS), dan recycling. Hingga saat ini, IBC juga telah melakukan penjajakan kepada beberapa perusahaan global yang bergerak di industri baterai EV. Beberapa perusahaan tersebut antara lain berasal dari China, Jepang, dan Korea Selatan. Namun menteri BUMN Erick Thohir  juga mematok standar bahwa kerjasama IBC tersebut harus memenuhi tiga kriteria, yaitu mendatangkan investasi pada sepanjang rantai nilai, membawa teknologi, dan membawa IBC untuk memasuki pasar regional dan pasar global. Menurutnya, ketiga syarat itu penting untuk membangun sinergi yang strategis dalam rantai nilai di industri EV battery ini. “Kita terbuka untuk bekerjasama dengan siapapun. Hanya saja harus memenuhi tiga kriteria, yakni mendatangkan investasi pada sepanjang rantai nilai, membawa teknologi, dan (membawa kita untuk memasuki, -red) pasar regional atau global. Tiga syarat itu penting agar seluruh rantai nilai di industri EV battery ini dapat dibangun secara terintegrasi melalui sinergi yang strategis,” jelas Erick dalam konferensi pers peluncuran IBC. Dalam konferensi pers peluncuran IBC tersebut juga turut hadir Wakil Menteri BUMN 1 Pahala N. Mansury, Ketua Tim Percepatan Proyek EV Battery Nasional Agus Tjahajana Wirakusumah, Group CEO MIND ID Orias Petrus Moedak, Direktur Strategi, Portofolio & Pengembangan Usaha Pertamina Iman Rachman, Dirut PLN Zulkifli Zaini, Dirut ANTAM Dana Amin, dan Dirut Pertamina Power Indonesia Dannif Danu Saputro. Peluncuran IBC ini tentunya membawa harapan besar untuk kemajuan sektor energi dan mineral di Indonesia. Mengingat, Indonesia juga memiliki potensi yang signifikan untuk mengembangkan ekosistem industri kendaraan bermotor listrik dan baterai listrik.  Di sektor hulu, Indonesia memiliki cadangan dan produksi nikel sebesar 24% dari total cadangan nikel dunia. Angka ini menunjukkan bahwa porsi cadangan dan produksi yang dimiliki Indonesia adalah yang terbesar di dunia. Sedangkan di sektor hilir, Indonesia juga memiliki potensi pangsa pasar produksi dan penjualan kendaraan jenis bermotor roda dua dan empat yang sangat besar, yaitu 8,8 juta unit untuk kendaraan roda dua dan 2 juta unit untuk kendaraan roda empat pada tahun 2025 mendatang. Dengan keunggulan rantai pasokan yang kompetitif tersebut, setidaknya 35% komponen EV bisa berasal dari lokal. Indonesia sendiri tercatat sebagai salah satu pasar terbesar untuk industri motor dunia. Kondisi ini tentunya ingin dimanfaatkan oleh pemerintah untuk tak hanya menjadi pemilik pasar terbesar, tetapi juga menjadi produsen terbesarnya sendiri. Total investasi yang dibutuhkan juga sangat besar, yakni mencapai 17 miliar US Dollar.  Pembentukan IBC sendiri sejatinya telah melalui perjalanan yang cukup panjang, karena perencanaannya sudah dimulai sejak setahun yang lalu, seperti disampaikan menteri BUMN Erick Thohir dalam konferensi pers peluncuran IBC. Beliau juga menyampaikan, kali ini Indonesia tak ingin ketinggalan lagi dalam mengejar kemajuan global, kali ini Indonesia ingin mengambil langkah besar untuk bersaing di dunia global dengan memanfaatkan kekayaan nikel Indonesia melalui IBC ini. Selain itu, pendirian IBC ini juga bertujuan untuk membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia sendiri.

Terkini