trending

Pembangunan Jalan Tol Semarang-Demak Hampir Rampung

Sabtu, 14 Mei 2022 | 16:33 WIB

Kabar BUMN -  Pembangunan Jalan Tol Semarang-Demak khusus Seksi 2 progresnya hampir rampung. Saat ini, pembangunan tersebut telah mencapai 80,63 persen dan ditargetkan selesai konstruksi pada akhir tahun 2022. Kehadiran Jalan Tol Semarang-Demak diharapkan dapat semakin melengkapi konektivitas jaringan Jalan Tol dan ruas utama di sisi utara Pulau Jawa.

Setelah pembangunan Jalan Tol ini selesai, diharapkan semakin mendukung pertumbuhan Pusat Ekonomi baru di Provinsi Jawa Tengah. Jalan Tol dengan panjang 27 KM ini memiliki dua seksi, yakni Seksi 1 (Semarang/Kaligawe-Sayung) sepanjang 10,69 KM porsi pemerintah yang ditargetkan selesai konstruksinya pada tahun 2024 mendatang.

Sementara untuk Seksi 2 (Sayung-Demak) sepanjang 16,31 KM yang merupakan porsi Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) PT Pembangunan Perumahan Semarang Demak. Selain itu, Jalan Tol Semarang-Demak akan memiliki 2 buah simpang susun (SS), yakni SS Sayung, dan SS Demak. Konstruksi Jalan Tol Semarang-Demak juga menggunakan produk dalam negeri berupa beton precast yang diproduksi oleh PT WIKA Beton.

Jalan Tol ini nantinya akan terintegrasi dengan Tanggul Laut Kota Semarang dan akan difungsikan sebagai penahan banjir rob, serta mengatasi banjir dan genangan air yang selama ini menjadi permasalahan di Provinsi Jawa Tengah yang sering terjadi di sekitar Semarang.

Tanggul ini memiliki struktur timbunan di atas laut juga diperkuat oleh matras bambu setebal 17 lapis. Selain sistem matras bambu, penguatan kondisi tanah dilakukan dengan cara pemasangan material pengalir vertikal pra-fabrikasi atau PVD serta melaksanakan pembebanan menggunakan material pasir laut yang diambil menggunakan alat Trailing Suction Hopping Dredger atau TSHD.

Kementerian PUPR juga bekerja sama dengan Pemerintah Daerah menyiapkan program relokasi lahan mangrove yang berada di sekitar pembangunan Seksi 1 Tol Semarang-Demak ruas Semarang-Sayung. Kerja sama ini sebagai upaya untuk meminimalkan dampak dampak negatif terhadap lingkungan dari pembangunan.

Tak hanya itu, pemerintah juga melestarikan tiga lokasi kawasan mangrove yang akan direlokasi dengan total luas kurang lebih 46 hektar. Hal ini bertujuan untuk mempertahankan fungsi hutan mangrove sebagai habitat flora dan fauna di pesisir Pantai Utara Jawa serta melindungi daerah garis pantai, termasuk mengurangi risiko abrasi.

Bukan hanya sebagai paru-paru segar untuk sekitar, sistem akar pohon bakau yang kokoh juga semakin membantu membentuk penghalang alami terhadap gelombang badai dan banjir. Sedimen sungai dan darat terperangkap oleh akar dapat melindungi daerah garis pantai serta memperlambat erosi.

Terkini