trending

Subholding PLN Beri Kepastian Pasokan Energi Primer Pembangkit Listrik

Minggu, 25 September 2022 | 22:00 WIB
Transformasi Bisnis Mampu Perkuat PLN Hadapi Tantangan Global

Kabar BUMN - Erick Thohir selaku Menteri BUMN optimistis pembentukan Holding-Subholding PT PLN (Persero) akan memberikan kepastian pengadaan energi primer untuk operasional pembangkit. Menurutnya, ini penting dilakukan oleh PLN untuk mengembangkan inovasi dan melakukan efisiensi serta proses bisnis yang kompleks setelah dua tahun lalu diminta untuk bertransformasi.

“Setelah dua tahun lalu saya minta PLN untuk melakukan transformasi. Pertama, saya minta urusan pengadaan energi primer yang sebelumnya tersebar dan tidak efisien, agar dikelola secara terpusat sehingga lebih efisien. Akan dibentuk satu subholding yaitu PLN Energi Primer Indonesia. Dengan ini maka security of supply bisa lebih kokoh,” kata Erick.

Menanggapi hal ini, Darmawan Prasodjo  selaku Direktur Utama PLN menjelaskan subholding energi primer ini akan fokus melakukan tata kelola hingga rantai pasok dari sumber energi primer untuk pembangkit, yaitu Batu Bara, Gas dan BBM, serta Biomassa. PLN Energi Primer Indonesia memiliki tiga anak usaha yaitu Coal Mining Company, Gas Midstream Company, dan Logistic Coal Company.

“Subholding ini akan mengamankan pasokan energi primer untuk memproduksi listrik hingga 280 ribu Gigawatt Hour (GWh) per tahun. Ini akan mengonsolidasikan pengadaan dan rantai pasok energi primer hanya di satu titik berada di bawah subholding energi primer,” terang Darmawan.

Sebagai contoh, sebelumnya rantai pasok batubara tersebar di PLN dan masing-masing anak usaha PLN. Menurutnya, dulu PJB punya sendiri, Indonesia Power punya sendiri, kita ada sendiri, lalu di pembangkitan masing-masing juga ada. Kemudian PLN sinergikan dan kelola serta konsolidasikan jadi satu sehingga lebih efektif dan efisien.

“Selain batubara, pengadaan gas dan juga BBM juga terkonsolidasi di dalam subholding energi primer ini. Setiap masing masing kebutuhan ini nanti ada direktoratnya masing masing yang bertanggung jawab menjamin rantai pasoknya. Saat ini, PLN masih mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dimana dalam operasionalnya, PLN menerapkan teknologi co-firing.” tuturnya.

Lebih lanjut Darmawan menjelaskan bahwa teknologi ini membutuhkan biomassa sebagai subtitusi dari batu bara. Sehingga melalui subholding ini, PLN juga membentuk entitas baru yang khusus mengurus biomassa. “Kedepannya, PLN itu membutuhkan paling tidak 10 juta ton biomassa untuk co-firing kita. Jadi kami membentuk entitas baru juga yang khusus untuk mengurus biomassa ini,” tutup Darmawan.

Terkini