Kabar BUMN - Waduk Brigif karya Brantas Abipraya (Persero) di Kawasan Cimpedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan siap menghadirkan ekosistem yang sehat untuk DKI Jakarta. Waduk ini telah diresmikan oleh Anies Baswedan selaku PT Gubernur DKI Jakarta pada 6 Oktober kemarin.
PT Brantas Abipraya bergerak membangun waduk ini pada akhir 2021 dan juga Perseroan yang bergerak di bidang konstruksi ini turut membuktikan peran aktifnya dalam mereduksi debit banjir, menambah area resapan air dan konservasi, menambah ruang terbuka sekaligus ruang interaksi publik di wilayah Jakarta serta adanya waduk ini dapat menghadirkan ekosistem lingkungan yang lebih sehat.
“Brantas Abipraya akan terus memperkuat komitmennya dalam memberikan yang terbaik lewat karya infrastruktur kami. Sesuai slogan kami yaitu Brantas, Berani Tuntas. Pembangunan Waduk Brigif ini berkontribusi terhadap pengendalian banjir di wilayah Jakarta Selatan,” ujar InceSuil Febryan Maula selaku General Manager Divisi Operasi 3 Brantas Abipraya.
Memperkuat penjelasan Febryan, Gubernur DKI saat meresmikan juga mengatakan bahwa waduk ini disebut “Ruang Limpah” karena menjadi salah satu yang dibuat untuk pengendalian banjir. Anies pun mengklaim bahwa infrastruktur yang dibangun Pemprov DKI ini berupa kombinasi antara ruang terbuka hijau dan ruang terbuka biru. Anies meyakini ruang limpah sungai mampu mengembalikan ekosistem sungai seperti sedia kala.
Febryan menambahkan, dengan adanya waduk ini dapat mengurangi dampak genangan di daerah hilir Kali Krukut dengan memiliki volume tampungan 308.000 meter kubik. Waduk Brigif ini disebut merupakan proyek pertama berbasis alam yang dinilai bisa menyelesaikan masalah limpahan air sungai. Proses pembuatan Waduk Brigif merupakan rujukan Kallang River yang berada di Singapura.
“Semoga dengan diresmikannya Waduk Brigif ini selain berfungsi untuk mengendalikan banjir juga dapat digunakan warga beraktivitas dengan memanfaatkan lahan hingga air. Dengan adanya ruang terbuka yang sehat ini, maka ini dapat membantu Jakarta mengatasi masalah alam akibat kerusakan lingkungan,” tutup Febryan.