"Namun, hari ini kita bisa melihat smelter ini beroperasi, menunjukkan komitmen Freeport dalam memenuhi syarat IUPK,” kata Bahlil.
Plt. Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Bambang Suswantono, yang mewakili Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menegaskan bahwa Kementerian ESDM terus memantau pembangunan smelter ini.
“Peresmian operasi smelter Freeport menandai dimulainya hilirisasi mineral di Indonesia, sejalan dengan arahan Presiden Joko Widodo,” jelas Bambang.
Presiden Direktur PTFI Tony Wenas menambahkan bahwa smelter baru ini merupakan bagian dari komitmen PTFI mendukung kebijakan hilirisasi mineral tembaga pemerintah.
Baca Juga: Tindaklanjuti PJBG, PGN Suplai Gas 9.49 BBTUD ke Smelter Freeport di Gresik
Menurutnya, tembaga akan sangat dibutuhkan di masa depan, terutama dengan transisi energi yang membutuhkan banyak tembaga.
“Pembangunan smelter baru ini adalah langkah yang tepat, mengingat permintaan tembaga dunia yang terus meningkat.
"Ini akan mempercepat pembentukan ekosistem kendaraan listrik dan mendukung visi Indonesia Emas,” kata Tony.
Baca Juga: Gunakan REC PLN, Kini Produk Katoda Tembaga Freeport Jadi Produk Hijau Berdaya Saing Tinggi
Acara peresmian ini berlangsung di area Tangki Asam Sulfat, ditandai dengan penekanan tombol sirine dan penandatanganan prasasti.
Hadir juga dalam acara ini Pj. Gubernur Jawa Timur yang diwakili Pj. Sekdaprov Jawa Timur Bobby Soemiarsono serta Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani.
Smelter baru PTFI ini memiliki kapasitas untuk memurnikan 1,7 juta ton konsentrat tembaga per tahun.
Selain menghasilkan katoda tembaga, smelter ini juga menghasilkan lumpur anoda yang akan dimurnikan di Precious Metal Refinery (PMR) menjadi emas dan perak batangan serta Platinum Group Metals (PGM).