trending

Prospek Ekonomi Syariah 2026: Indonesia Dinilai Siap Melaju dengan Fondasi yang Kuat

Minggu, 7 Desember 2025 | 19:00 WIB
Proyeksi BSI menunjukkan ekonomi Indonesia 2026 makin kuat, didorong konsumsi, investasi, program pemerintah, dan pesatnya pertumbuhan ekonomi syariah. (Dok. BSI)

Baca Juga: Jelajah Bandung Pertama Kali, Pilihan Tempat yang Paling Ramah Wisatawan

Bank sentral di berbagai negara terus memperbesar cadangan emas, sementara permintaan untuk investasi hingga kuartal III 2025 sudah melampaui total setahun sebelumnya.

Banjaran menjelaskan, “Permintaan emas yang kuat dari bank sentral dan investor, ditambah pelemahan relatif Dolar AS, membuat prospek bisnis emas tetap menarik pada 2026."

"Bagi perbankan syariah, ini membuka ruang pengembangan produk emas yang lebih terintegrasi dengan ekosistem keuangan syariah.”

Baca Juga: Optimalisasi Arus Kendaraan Jelang Nataru, ASDP Perkuat Layanan Penyeberangan Utama

Pada tingkat domestik, ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh 5,28%, meningkat dari 5,04% pada 2025.

Pertumbuhan tersebut didukung konsumsi rumah tangga sebagai pendorong utama PDB, peningkatan investasi terutama PMDN, serta kebijakan fiskal yang tetap ekspansif namun lebih berhati-hati.

Inflasi diperkirakan berada di kisaran 2,94%, sementara BI Rate berpotensi turun bertahap hingga 4,25% di akhir 2026. Menurut Banjaran, “Ruang pelonggaran moneter terbuka, tetapi tidak akan agresif. Stabilitas Rupiah dan pengelolaan ekspektasi inflasi tetap menjadi fokus utama otoritas.”

Baca Juga: PT Timah Tbk Perkuat Ketahanan Pesisir Lewat Gerakan Mangrove di Belitung

Nilai tukar Rupiah diperkirakan stabil berkat rebound arus modal asing, cadangan devisa sekitar US$150 miliar, serta optimalisasi instrumen SRBI dan pasar obligasi domestik. Yield SBN 10 tahun diperkirakan berada di rata-rata 6,49%.

Program pemerintah juga diprediksi menciptakan akselerasi ekonomi di berbagai sektor, mulai dari program makanan bergizi gratis, penguatan layanan kesehatan hingga pendidikan, dukungan UMKM, serta program pangan dan energi.

Ekonom BSI turut menjelaskan mengenai “Efek Purbaya”, yaitu kebijakan fiskal yang ekspansif namun tetap prudent, termasuk penempatan SAL Rp276 triliun di perbankan untuk memperkuat likuiditas, menurunkan biaya dana, dan mendorong pertumbuhan pembiayaan sehingga mampu menciptakan lapangan kerja dan memperkuat kelas menengah.

Baca Juga: BBM Tetap Mengalir, Awak Mobil Tangki Pertamina Bertugas di Tengah Banjir dan Longsor

Dari sisi produksi, hilirisasi tetap menjadi motor utama pertumbuhan. BSI memproyeksikan sektor industri pengolahan, perdagangan, akomodasi dan makanan-minuman, transportasi, serta informasi dan komunikasi bakal tumbuh di atas rata-rata PDB pada 2026.

Investasi pada triwulan III 2025 telah mencapai Rp491,4 triliun, tumbuh 13,9% yoy, dengan PMDN Rp279,4 triliun dan PMA Rp212 triliun.

Halaman:

Tags

Terkini