Ke depan, PMDN diperkirakan menjadi sumber pertumbuhan utama, sementara PMA lebih selektif pada sektor bernilai tambah tinggi dan berorientasi ekspor.
Baca Juga: 4 Destinasi Malam Pasuruan yang Bikin Liburanmu Makin Seru!
Keuangan syariah dinilai menjadi bagian penting dari percepatan pertumbuhan nasional. Total aset keuangan syariah diprediksi meningkat dari Rp3.158 triliun pada 2025 menjadi Rp3.508 triliun pada 2026 atau tumbuh 14,8%.
Aset perbankan syariah diperkirakan menembus Rp1.205 triliun, pembiayaan mencapai Rp794 triliun dengan pertumbuhan 11,9%, dan DPK naik menjadi Rp952,9 triliun.
Banjaran menegaskan, “Keuangan syariah tidak lagi sekadar pelengkap, tetapi telah menjadi salah satu pilar pertumbuhan sektor keuangan nasional. Pertumbuhan aset, pembiayaan, dan DPK perbankan syariah yang konsisten dua digit menunjukkan kepercayaan dan preferensi masyarakat yang terus menguat.”
Baca Juga: Program Poin Festival 2025 Telkomsel Dibuka, Hadiah Utama Mulai Mercedes-Benz hingga iPhone 17 Pro
Industri halal diperkirakan terus memperkuat perdagangan dan konsumsi. Konsumsi produk halal domestik diproyeksikan mencapai US$259,8 miliar pada 2026 dan mencakup lebih dari 30% konsumsi rumah tangga nasional.
Ekspor produk halal diperkirakan meningkat menjadi US$73,9 miliar atau tumbuh 8,73%.
BSI Muslim Consumption Index juga menunjukkan konsumsi Muslim di Indonesia “tumbuh tetapi makin selektif”, dengan lonjakan pada kategori makanan-minuman halal, kosmetik halal, kesehatan, pendidikan, dan perjalanan ibadah.
Baca Juga: PLN Terbangkan Genset untuk Listriki RSUD Datu Baru, Pastikan Objek Vital Beroperasi Maksimal
Selain itu, penerimaan ZIS-DSKL diperkirakan naik dari Rp44,56 triliun pada 2025 menjadi Rp52,66 triliun pada 2026.
Ekonom BSI menilai peningkatan preferensi masyarakat dapat memperkuat pemerataan ekonomi bila terintegrasi dengan pembiayaan syariah serta program pemberdayaan pemerintah.
Menutup pemaparannya, Banjaran menyampaikan bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk memasuki fase pertumbuhan yang lebih kuat dan inklusif pada 2026.
Ia menekankan, “Tantangan tetap ada: risiko global, kedalaman pasar keuangan yang masih terbatas, dan kebutuhan menciptakan lebih banyak pekerjaan berkualitas."